Cerita Tentang Tato & Dugem Ala Susi Pudjiastuti

Doddy Handoko , Okezone · Senin 01 Maret 2021 06:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 01 337 2369928 cerita-tentang-tato-dugem-ala-susi-pudjihastuti-eP1wF02Vyb.jpg Susi Pudjiastuti

SUSI Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan dikenal nyentrik dan kontroversial. Mungkin masih ada yang berlum tahu Susi muda suka dugem, dan dia memiliki tato di tubuhnya.

"Gaya bicaranya yang ceplas ceplos, hidupnya yang penuh mistis, keluarganya, bisnisnya yang meraksasa, dan tatonya, gaya merokoknya, nge-winenya, semua menarik dan menjadi dinamika serta enerji bagi yang mau mendalaminya," kata Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) yang beberapa waktu lalu berkunjung ke rumahnya di Pangandaran, Jawa Barat.

Kata Neta, Susi mampu membangun kerajaan bisnis dari kota kecil Pangandaran. Di udara, Susi berbisnis dengan 52 pesawat dan dua helikopter. Di laut Susi berbisnis dengan puluhan kapal ikan dan pabrik industri perikanan. Di darat Susi berbisnis dengan puluhan bus, hotel, dan areal wisata lainnya.

Dalam kesempatan itu, Neta bertanya tentang tato yang dimiliki Susi. "Gimana ceritanya sampai Ibu punya Tato...?"

Susi bercerita, dirinya tahun 1980 mempunya tiga teman akrab. Semuanya bule perempuan. Usianya 10 tahun di atasnya. Mereka saat itu tinggal di Pangandaran. "Setiap Sabtu kami ke Jakarta dan baru pulang Senin pagi. Malamnya kami dugem. Kalau enggak ke Tanamor ya ke Pitstop. Tapi lebih sering ke Tanamor," ucap Susi.

Baca Juga : Kisah Desa Emas dan Piring Emas di Kolam Segaran Majapahit

Ditambahkan Susi, "Edannya, kalau sudah joget, kami bisa sampai naik-naik ke atas meja. Pernah di Tanamor kami sampai berantem. Soalnya, salah satu teman kami, pantatnya dipegang pengunjung pria. Setiap dugem kami sudah sepakat, salah satu harus kontrol dan membatasi minum sehingga bisa mengawasi situasi dan menjaga kami".

Selain itu, hanya satu yang boleh "beler" sampai mabuk berat dan pulangnya harus digotong gotong ke hotel. Itulah persahabatan mereka waktu muda dulu.

Ketiga teman bule Susi sudah mempunyai tato dan mereka meminta saya juga harus punya tato biar kompak, katanya. Akhirnya ia pun membuat tato di kaki kanan, dengan didampingi mereka. Saat itu usianya 26 tahun.

"Sakitnya minta ampun saat Tato itu dibuat. Sudah habis dua botol wiski saya minum tapi sakitnya tetap terasa dan tato gambar meraknya belum selesai. Akhirnya gegara ngga tahan saya minta berhenti. Jadi Tato ini belum selesai sebenarnya. Sakitnya saya ngga tahan," ujar Susi seperti dituliskan Neta.

Sampai kini, ketiga teman bule itu masih sering bertemu. Mereka sudah pulang ke negaranya masing masing. Yang satu sudah meninggal, yang satu hidup dengan keluarganya, dan yang satu lagi tinggal di rumah jompo.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini