Palu Godam Artidjo Alkostar yang Tak Pernah Ragu Jatuhkan Hukuman Maksimal Koruptor

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Minggu 28 Februari 2021 16:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 28 337 2369760 palu-godam-artidjo-alkostar-yang-tak-pernah-ragu-jatuhkan-hukuman-maksimal-koruptor-7xBfTLdgOd.jpg Artidjo Alkostar (foto: ist)

JAKARTA - Kabar duka datang dari anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (Dewas KPK) Artidjo Alkostar. Dia dikabarkan meninggal dunia pada hari ini, Minggu (28/2/2021).

Nama Artidjo Alkostar sudah tidak asing lagi dalam dunia peradilan. Semasa hidup, mantan hakim agung itu dikenal sebagai algojonya para koruptor.

Ketukan palu godam Artidjo kerap memberikan hukum maksimal kepada terpidana kasus korupsi. Dia tak pernah peduli pada peta kekuatan dan back up politik dalam menjatuhkan hukuman kepada terpidana korupsi.

Baca juga: Dewas KPK Sebut Artidjo Alkostar Meninggal Bukan karena Covid-19

"Artidjo Alkostar adl hakim agung yg dijuluki algojo oleh para koruptor. Dia tak ragu menjatuhkan hukuman berat kpd para koruptor tanpa peduli pd peta kekuatan dan back up politik. Dulu almrhm adl dosen di Fak. Hukum UII Yogya yg jg jd pengacara. Selama jd pengacara dikenal lurus," kata Menko Polhukam Mahfud MD dalam twitter pribadanya, @mohmahfudmd.

 Baca juga:Artidjo Alkostar Meninggal Dunia karena Menderita Jantung dan Paru-paru

Pria kelahiran Situbondo 22 Mei 1949 itu memang dikenal keras dan selalu memberikan hukuman maksimal kepada para terdakwa tindak pidana korupsi.

Mantan Ketua Muda Kamar Pidana MA itu mengibaratkan korupsi seperti penyakit kanker yang terus menggerogoti tubuh. Menurutnya, korupsi harus diberantas agar tidak membawa masa depan suram bagi Indonesia.

"Rakyat Indonesia berhak untuk melihat masa depan lebih baik. Koruptor ini membuat masa depan bangsa suram. Kita harus mencerahkan masa depan bangsa ini. Tidak ada toleransi bagi koruptor. Zero tolerance bagi koruptor," ujar Artijo, kala itu.

Mantan Dosen Fakultas Universitas Islam Indonesia (UII) itu memasuki masa pensiun pada 22 Mei 2018 lalu. Dia berkakir di MA selama 16 tahun.

Usai pensiun, sejatinya Artidjo telah memutuskan untuk mengelola tiga kafenya di Situbondo, Yogyakarta, hingga Sumenep.

Artidjo juga memiliki kesenangan lain seperti memelihara tanaman hias dan hewan. Kesenangannya sebagai obat penawar stres memulihkan ketajaman pikiran, kebugaran rohani dan harmoni jiwa.

Bahkan, Artidjo juga berencana angon kambing di kampungnya.

"Saya sangat senang memelihara tanaman hias, tanaman obat, bonsai, tanaman buah mangga manalagi dan hewan, kambing, ayam, bekisar, ikan hias dollar di akuarium, ikan alligator di kolam," tuturnya

Namun, Presiden Jokowi menunjuknya sebagai anggota Dewas KPK. Dia dilantik di Istana pada Jumat 20 Desember 2021 lalu. "Ya panggilan republik ini, saya tidak boleh egoistis, mungkin (bukan-red) kepentingan saya. Tapi kan kalau itu diperlukan kan negara perlu kita bantu. Negara kita kan negara kita bersama," tuturnya.

Kini sang algojo koruptor itu telah berpulang. Dia meninggal diusia 70 tahun karena penyakit paru-paru dan jatung yang dideritanya.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini