Soekarno Kecil Diramal Ibunya Akan Jadi Pemimpin Besar

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 28 Februari 2021 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 28 337 2369574 soekarno-kecil-diramal-ibunya-akan-jadi-pemimpin-besar-SqfuoNGbdS.jpg Soekarno (Foto : IPPHOS)

SOEKARNO atau Bung Karno sejak kecil telah diramal akan menjadi pemimpin besar di Indonesia. Dalam buku "Sukarno Sejarah yang Tercecer" kaya Roso Daras, Bung Karno mencatat ada tiga ramalan emas.

"Pertama, diucapkan oleh ibundanya sendiri, Ida Ayu Nyoman Rai atau kita kenal sebagai Idayu. Ialah yang meramal bayi Soekarno kelak akan menjadi pemimpin dari rakyat Hindia yang terjajah. Konfirmasi ramalan ibundanya, didapat dari neneknya, sebagai saksi atas peristiwa kelahiran Sukarno," ungkap Roso.

Yang Bung Karno ingat adalah peristiwa di suatu pagi, saat matahari belum lagi menampakkan diri. Ia tebangun, dan melihat ibundanya duduk di beranda, seorang diri, menghadap ke timur. Soekarno kecil berjalan gontai menuju sang ibu, sekadar ingin bermanja. Oleh ibunya, ia segera direngkuh dan dipangkunya.

Dalam dekapan hangat di pagi buta, meluncurlah suara lembut sang ibu, “Engkau sedang memandangi fajar, nak. Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan mejadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar menyingsing. Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dahulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar.”

Berjumpalah Soekarno dengan Dr. Douwes Dekker, seorang patriot keturunan Indo-Belanda yang mendedikasikan seluruh hidupnya bagi kemerdekaan Indonesia. Ia bersama Dr. Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara mendirikan National Indische Partij pada tahun 1912. Douwes Dekker yang bernama Indonesia Danudirdja Setiabudi ini, adalah adik dari pengarang Eduard Douwes Dekker atau yang kita kenal dengan nama samaran Multatuli.

"Douwes Dekker atau Setiabudi ini adalah tokoh pergerakan penting. Ia, seperti kebanyakan tokoh pergerakan lain, juga telah mengalami pembuangan oleh Belanda selama bertahun-tahun. Pria kelahiran Pasuruan 8 Oktober 1879 dan meninggal dunia di Bandung 28 Agustus 1950 itu, tak urung bersinggungan pula dengan Sukarno, sebagai sesama orang pergerakan menuju Indonesia merdeka," paparnya.

Baca Juga : Bung Karno Bisikkan Nama Ratna Sari Dewi di Penghujung Hidupnya

Di saat usianya merambat di angka 50, Douwes Dekker menyampaikan testamen penting kepada partainya, National Indische Partij.

Pada suatu rapat partai, berkatalah Douwes Dekker, “Tuan-tuan, saya tidak menghendaki untuk digelari seorang veteran. Sampai saya masuk ke liang-kubur saya ingin menjadi pejuang untuk Republik Indonesia. Saya telah berjumpa dengan pemuda Sukarno. Umur saya semakin lanjut, dan bilamana datang saatnya saya akan mati, saya sampaikan kepada tuan-tuan, bahwa adalah kehendak saya supaya Sukarno yang menjadi pengganti saya”.

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan “ramalan”-nya…, “Anak muda ini, akan menjadi ‘juru selamat dari rakyat Indonesia di masa yang akan datang’.”

Ramalan emas yang nomor tiga, datang dari mahaguru junjungannya, Haji Oemar Said (H.O.S.) Cokroaminoto. Ia seorang penganut Islam yang saleh. Partainya, Sarekat Islam, mampu menggerakkan massa dalam jumlah yang sangat besar. Seperti halnya Douwes Dekker dan yang lain-lain, Cokro juga terbilang akrab dengan ruang pengap bernama penjara Belanda.

Bung Karno dalam banyak keterangannya menyebut Surabaya sebagai kawah candradimuka, di rumah Cokroaminoto pula ia mendapat gemblengan, sehingga melahirkan semangat nasionalisme yang berkobar-kobar.

Soekarno yang tinggal di salah satu kamar sempit, paham betul ritual keagamaan Cokro. Termasuk kebiasaannya shalat maghrib, dilanjut wirid dan doa hingga masuk waktu shalat isya.

Namun, ada satu hari yang begitu membekas di benak Sukarno.Malam itu, hujan turun membasahi Surabaya. Usai shalat shalat isya, ia berdoa lama, sebelum akhirnya selesai dan berjalan menghampiri keluarganya. Tak lama kemudian, dengan raut wajah serius, suara yang dalam, Cokro berkata kepada seluruh keluarganya, “Ikutilah anak ini. Dia diutus oleh Tuhan untuk menjadi Pemimpin Besar kita. Aku bangga karena telah memberikan tempat berteduh di rumahku.”

"Ramalan pertama tahun 1901. Ramalan kedua dan ketiga tahun 20-an. Dan Bung Karno mengungkapnya tahun 1965," ungkap Roso.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini