Kisah Gubernur Etnis Tionghoa Pertama Jakarta di Era Bung Karno

Irfan Ma'ruf, iNews · Jum'at 26 Februari 2021 17:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 26 337 2368972 kisah-gubernur-etnis-tionghoa-pertama-jakarta-di-era-bung-karno-IOANJUc1dG.jpg Henk Ngantung/ Ist

JAKARTA - Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tercatat pernah memimpin DKI Jakarta. Namun Ahok bukan orang Tionghoa pertama yang menjadi Gubernur Jakarta. Politikus PDIP itu merupakan orang kedua dari etnis Tionghoa yang menjadi Gubernur DKI Jakarta setelah Henk Ngantung.

Demikian dikatakan oleh Teddy Tjan dalam webinar dengan tema 'Tradisi Tionghoa di Era Modern' Jumat (26/2/2021). Dia menyebut Henk Ngantung merupakan Gubernur di zaman presiden pertama Soekarno pada tahun 1965.

(Baca juga: Janji Palsu Dai Nippon Berujung Pemenggalan Prajurit PETA di Pantai Ancol)

Menurutnya, pada zaman Soekarno merupakan masa keemasan etnis Tionghoa di Indonesia. Banyak orang dari etnis Tionghoa yang dipilih sebagai menteri oleh Soekarno.

"Masa orde lama zamannya Bung Karno itu masa kejayaan orang Tionghoa. Banyak menteri dari orang Tionghoa bahkan ada yang menjadi gubernur itu namanya Henk Ngantung itu gubernur pertama Tionghoa di zaman era Sukarno," kata Teddy Tjan.

Dia menyebut perlu waktu panjang perjalanan etnis Tionghoa dapat menjadi pemimpin di DKI Jakarta. Sejak dari Henk Ngantung baru ada pemimpin dari etnis Tionghoa kembali yakni Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

"Dibutuhkan waktu lama untuk menjadi gubernur DKI orang Tionghoa. Pak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) setelah pak Jokowi naik pilpres dan (Ahok) naik jadi gubernur DKI," jelasnya.

Bahkan tidak perlu waktu lama, Basuki Tjahaja Purnama harus lengser karena senimen agama yang masih kuat Bahkan ada yang samapai antipati terhadap sosok Basuki Tjahaja Purnama.

Dia bercerita mengenai kondisi orang Tionghoa di Indonesia sejak era Bung Karno hingga zaman Jokowi. Jika di zaman Soekarno orang Tionghoa mengalami masa kejayaan berbeda pada zaman Soeharto sebaliknya.

Masa Soeharto, etnis Tionghoa mengalami keterpurukan. Bahkan orang etnis Tionghoa atau orang Tiongkok disebutnya China dan belajar Mandarin tidak diperbolehkan.

"Orang punya ijazah Tiongkok langsung dituduh PKI. Penghapusan budaya Tionghoa di zaman seoharto itu parah sekali. Sampai tulisan tidak boleh," jelasnya.

Kemudian pada zaman Habibie berbarengan dibukannya kran demokrasi masyarakat Tionghoa mulai bangkit Dan pada masa Abdurahman Wahid (Gus Dur). Pada masa reformasi itu, Gus Dur secara terbuka menyebut dirinya keturunan Tionghoa.

Kemudian di zaman Megawati ditetapkan Hari besar Imlek dan di zaman SBY hingga sekarang kondisi masyarakat Tionghoa di Indonesia semakin baik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini