Dilantik Jadi Bupati Semarang, Ngesti Nugraha Tak Penuhi Panggilan KPK

Arie Dwi Satrio, Okezone · Jum'at 26 Februari 2021 10:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 26 337 2368675 dilantik-jadi-bupati-semarang-ngesti-nugraha-tak-penuhi-panggilan-kpk-jB6G0oXU9M.jpg Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri (Okezone)

JAKARTA - Bupati Semarang terpilih Ngesti Nugraha mangkir alias tidak memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis, 25 Februari 2021, kemarin. KPK memastikan bakal menjadwalkan ulang pemeriksaan terhadap Ngesti Nugraha.

"Informasi yang kami terima, yang bersangkutan konfirmasi tidak bisa hadir. Akan dijadwal ulang namun belum ditentukan waktunya," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Jumat (26/2/2021).

Baca Juga: Soal Tahanan KPK Divaksinasi, Ini Respons Satgas

Sekadar informasi, Ngesti Nugraha dipanggil untuk diperiksa dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kabupaten Semarang. Ngesti bakal digali keterangannya sebagai saksi atas kasus dugaan suap pengadaan bantuan sosial (bansos) untuk penanganan Covid-19 di wilayah Jabodetabek.

Berdasarkan informasi yang diterima, Ngesti tak memenuhi panggilan pemeriksaan KPK kemarin karena sedang persiapan untuk pelantikannya sebagai Bupati Semarang terpilih pada hari ini. Ali mengamini ihwal alasan ketidakhadiran Ngesti tersebut.

"Iya (karena ada agenda pelantikan sebagai Bupati terpilih Semarang)," singkatnya.

Sejauh ini, belum diketahui apa yang bakal didalami penyidik terhadap Ngesti. Pun demikian kaitan Ngesti dengan perkara ini. Namun demikian, belakangan KPK sedang mengusut aliran uang serta keterlibatan pihak lain dalam kasus dugaan suap pengadaan bansos corona.

Baca Juga: KPK Panggil Bupati Semarang Terpilih

Sejauh ini, KPK baru menetapkan lima orang tersangka dalam perkara ini. Kelima tersangka itu yakni, mantan Mensos Juliari P Batubara. Kemudian, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kemensos, Matheus Joko Santoso (MJS) dan Adi Wahyono (AW) serta dua pihak swasta pemberi suap yakni Ardian IM (AIM), dan Harry Van Sidabukke (HS).

Matheus dan Adi Wahyono diduga mengambil jatah Rp10 ribu dari tiap paket bansos berupa sembako seharga Rp300 ribu, bekerjasama dengan pengusaha Ardian IM dan Harry Sidabukke. Dari jatah Rp10 ribu di tiap paket sembako, diduga ada yang mengalir untuk mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini