Edhy Prabowo dan Eks Sesprinya Diduga Menyalahgunakan Fasilitas Kunjungan KPK

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 25 Februari 2021 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 25 337 2367937 edhy-prabowo-dan-eks-sesprinya-diduga-menyalahgunakan-fasilitas-kunjungan-kpk-68P5ZsiuBh.jpg Edhy Prabowo (Foto : Sindo)

JAKARTA - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (EP) serta bekas Sekretaris Pribadinya (Sespri), Andreau Misanta Pribadi (AMP) diduga menyalahgunakan fasilitas kunjungan online, yang diberikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Edhy dan Andreau disinyalir menggunakan kunjungan online bukan untuk keluarganya.

Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri menjelaskan, awalnya pihak Rumah Tahanan (Rutan) memfasilitasi kunjungan online untuk keluarga Edhy Prabowo dan Andreau Misanta sejak Senin, 1 Februari 2021. Kunjungan online itu, kata Ali, hanya diizinkan untuk pihak keluarga inti saja.

"Terkait munculnya pihak lain saat dilakukannya kunjungan online tersebut, pihak rutan KPK telah melakukan pengecekan. Pihak yang turut hadir dalam kunjungan online dimaksud ternyata tidak tercatat dan terdaftar sebagai bagian dari pihak keluarga para tersangka," beber Ali melalui pesan singkatnya, Kamis (25/2/2021).

Baca juga:  Stafsus Edhy Prabowo Ngaku "Hanya Dititipkan" Uang oleh Eksportir Benih Lobster

"Atas kejadian tersebut, pihak Rutan KPK tentu akan lebih selektif dan aktif memantau pelaksanaan kunjungan online bagi para tahanan di Rutan KPK," imbuhnya.

Sekadar informasi, KPK telah menetapkan tujuh tersangka kasus dugaan suap terkait perizinan ekspor benih lobster. Ketujuh tersangka itu yakni, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (EP); Stafsus Menteri Kelautan dan Perikanan, Safri (SAF) dan Andreau Misanta Pribadi (AMP).

Baca juga:  Suap Ekspor Benih Lobster, KPK Panggil Mantan Stafsus Edhy Prabowo

Kemudian, Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi (SWD); Staf Istri Menteri Kelautan dan Perikanan, Ainul Faqih (AF); dan pihak swasta Amiril Mukminin (AM). Sementara satu tersangka pemberi suap yakni, Direktur PT DPP, Suharjito (SJT).

Edhy bersama Safri, Andreau Pribadi Misanta, Siswadi, Ainul Faqih, dan Amril Mukminin diduga menerima suap sebesar Rp 10,2 miliar dan USD 100 ribu dari Suharjito. Suap tersebut diberikan agar Edhy memberikan izin kepada PT Dua Putra Perkasa Pratama untuk menerima izin sebagai eksportir benur.

Sebagian uang suap tersebut digunakan oleh Edhy dan istrinya, Iis Rosyati Dewi untuk belanja barang mewah di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 November 2020. Sekitar Rp750 juta digunakan untuk membeli jam tangan Rolex, tas Tumi dan Louis Vuitton serta baju Old Navy.

(wal)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini