Siklon Tropis Penyebab Cuaca Ekstrem Sudah Terbentuk dan Menyebar, Ini Saran BMKG

Komaruddin Bagja, Sindonews · Rabu 24 Februari 2021 20:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 24 337 2367793 siklon-tropis-penyebab-cuaca-ekstrem-sudah-terbentuk-dan-menyebar-ini-saran-bmkg-7uyw9G3y41.jpg Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, sebelumnya pada 23 Februari 2021, melalui Jakarta Tropical Cyclone Warning Center (Jakarta TCWC) telah mendeteksinya adanya Pusat Tekanan Rendah di wilayah perairan sebelah selatan Nusa Tenggara yang dapat berpotensi menjadi Bibit Siklon Tropis.

Berdasarkan hasil analisis kondisi dinamika atmosfer hari ini (24 Februari 2020 jam 13.00 WIB), Pusat Tekanan Rendah tersebut telah menjadi Bibit Siklon Tropis dengan inisial 98S. Bibit Siklon 98S terpantau di Samudera Hindia sebelah selatan Jawa Timur dengan posisi di sekitar 13.7 derajat LS – 116.3 derajat BT atau sekitar 625 km dari lepas pantai Jawa Timur.

Pantauan citra satelit cuaca 6 jam terakhir menunjukkan adanya aktifitas pertumbuhan awan konvektif dan terlihat juga pola konvektifitas yang kuat dari sistem 98S tersebut. Kecepatan angin maksimum di sekitar sistem bibit siklon 98S berkisar 25 knots (46 km/jam). Data angin perlapisan menunjukkan adanya sirkulasi di lapisan bawah yang sangat ideal untuk model pertumbuhan siklon tropis, pada lapisan 700 mb dan 500 mb sirkulasi terlihat sedikit melebar dan bergeser ke utara.

Pada lapisan atas kecepatan angin lemah dan pola beraian cukup kuat, geser angin vertikal sedikit lemah 10 – 15 knots, dan suhu muka laut yang hangat 29-30°C cukup mendukung untuk peningkatan pertumbuhan bibit siklon tersebut menjadi Siklon Tropis.

Baca Juga: BMKG: Malam Ini Potensi Hujan Ekstrem, Jakarta hingga Jateng Waspada Banjir!

Berdasarkan data model prediksi numerik, terlihat adanya peningkatan kecepatan angin yang signifikan pada sistem 98S ini untuk menjadi Siklon tropis. Potensi bibit siklon 98S untuk menjadi siklon tropis dalam 24 jam kedepan berada dalam kategori menengah hingga tinggi, dengan kecepatan angin maksimum pada sistem Siklon dapat mencapai hingga 35 knot atau 65 km/jam.

Pergerakan sistem siklon diprediksikan menuju ke arah Barat-Barat daya menjauhi wilayah Indonesia. Mengingat saat ini posisi Bibit Siklon tersebut masih berada diluar wilayah tanggung jawab Jakarta TCWC, maka penamaan untuk Siklon Tropis tersebut akan di lakukan oleh TCWC Perth-Australia.

"Keberadaan bibit siklon tersebut cukup signifikan berdampak pada pembentukan pola konvergensi dan belokan angin di wilayah Sumatera Selatan - Jawa - Nusa Tenggara dan secara tidak langsung dapat berdampak pada pembentukan potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, selain itu dapat menimbulkan potensi angin kencang di wilayah perairan dan potensi gelombang tinggi di wilayah laut bagian selatan Jawa hingga Nusa Tenggara," urai Dwikorita lewat siaran Youtube resmi BMKG, Rabu (24/2/2021).

Berdasarkan Prakiraan Cuaca Berbasis Dampak (IBF) untuk dampak banjir/banjir bandang, selama 3 hari ke depan (tanggal 24-26 Februari 2021) potensi dampak dengan status SIAGA adalah ;

1.Propinsi Banten; Kota Cilegon, Serang, Kota Serang, Kota Tangerang, Tangerang, Kota Tangerang Selatan

2.Provinsi DKI Jakarta; Kota Jakarta Pusat, Kota Jakarta Selatan, Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Utara, Kota Jakarta Barat,

3.Provinsi Jawa Barat; bogor, Kota depok, Bekasi, Kota Bekasi, Indramayu, Sukabumi, Kota Sukabumi, Cianjur

4.Provinsi Jawa Tengah; Kota Semarang, Demak, Grobogan, Kudus, Pati, Jepara, Brebes, Kota Tegal, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kota Pekalongan, Kendal.

5.Provinsi Jawa Timur; Malang, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, Jember, Bondowoso, Situbondo.

6.Provinsi Bali; Buleleng, Tabanan, Badung, GIanyar, Bangli, Karang Asem.

7.Provinsi Nusa Tenggara Barat; Lombok Timur, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Barat, Sumbawa.

8.Provinsi Sulawesi Selatan: Maros, Gowa, Takalar, Jeneponto, Kota Makassar

Kondisi dinamika atmosfer tersebut di atas secara umum cukup signifikan berpengaruh terhadap potensi hujan lebat dan cuaca ekstrem di sebagian besar wilayah Jawa mulai tanggal 24 Februari 2021.

"Sedangkan untuk wilayah Jabodetabek, potensi cuaca ekstrem berdampak signifikan diprediksikan dapat terjadi mulai tanggal 24-27 Februari 2021. Kejadian hujan di wilayah Jabodetabek pada periode tersebut perlu diwaspadai terutama pada malam/dini hari menjelang pagi dengan potensi distribusi hujan dapat terjadi secara merata," tegasnya.

Berdasarkan hasil analisis BMKG dengan merujuk pada data observasi terkini dan model cuaca (baik single model maupun ensemble), diprakirakan kronologi hujan DKI Jakarta kurang lebih sbb:

- Tanggal 24 Februari 2021 hujan diprediksi umumnya ringan hingga sedang pada siang dan malam hari, hujan dengan intensitas lebat akan terjadi pada dini hari.

- Tanggal 25 Februari 2021 intensitas hujan akan meningkat menjadi lebat pada pagi hingga siang hari. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang kemudian akan terjadi pada malam hingga dini hari.

- Tanggal 26 Februari 2021 intensitas hujan masih dalam kategori ringan hingga sedang pada pagi hari dan berangsur-angsur akan menurun pada siang hingga malam hari.

Jika dibandingkan dengan curah hujan yang terukur pada tanggal 19-20 Februari lalu, curah hujan pada 25-26 Februari memiliki potensi yang sama yaitu sangat lebat dapaat terjadi ekstrem tidak merata.

"Selain wilayah DKI Jakarta, BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas lebat hingga ekstreem yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang juga akan terjadi di Provinsi Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini