KPK Cecar Stafsus Edhy Prabowo terkait Penggunaan Kartu Kredit untuk Belanja di Hawaii

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 24 Februari 2021 09:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 24 337 2367309 kpk-cecar-stafsus-edhy-prabowo-terkait-penggunaan-kartu-kredit-untuk-belanja-di-hawaii-FwGri4p28P.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rampung memeriksa mantan Staf Khusus (Stafsus) Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, Gellwynn DH Jusuf pada Selasa, 23 Februari 2021. Gellwynn diperiksa sebagai saksi atas kasus dugaan suap terkait perizinan ekspor benih bening (benur) lobster.

Dari hasil pemeriksaan, penyidik mengonfirmasi Gellwynn terkait penggunaan kartu kredit miliknya oleh tersangka istri Edhy Prabowo, Iis Rosita Dewi. Kartu kredit Gellwynn dikabarkan digunakan Iis Rosita Dewi untuk belanja barang mewah saat lawatan ke Hawaii, Amerika Serikat.

"Gellwynn DH Yusuf, dikonfirmasi terkait dengan dugaan penggunaan kartu kredit bank milik saksi oleh istri tersangka EP (Edhy Prabowo) yang digunakan untuk berbelanja barang mewah di Amerika Serikat," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Rabu (24/2/2021).

Baca juga: Suap Ekspor Benih Lobster, KPK Panggil Mantan Stafsus Edhy Prabowo

Selain Gellwynn, penyidik juga telah memeriksa seorang Notaris, Alvin Nugraha, pada Selasa, kemarin. Dari hasil pemeriksaan Alvin, penyidik menyita sejumlah dokumen tanah di Sukabumi, Jawa Barat, yang diduga milik Edhy Prabowo.

"Alvin Nugraha (Notaris). Pada yang bersangkutan dilakukan penyitaan berbagai dokumen kepemilikan tanah di wilayah Sukabumi, Jawa Barat yang diduga milik tersangka EP," bebernya.

Baca juga:  Penahanan Edhy Prabowo Diperpanjang 30 Hari ke Depan

Selain itu, penyidik juga menyita berbagai dokumen PT Aero Citra Kargo (ACK) dari seorang Mahasiswa, Lutpi Ginanjar. Sedianya, Lutpi juga diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi pada Selasa, 23 Februari 2021, kemarin.

"Lutpi Ginanjar (Mahasiswa), pada yang bersangkutan dilakukan penyitaan berbagai dokumen perusahaan milik PT ACK (Aero Citra Cargo) yang terkait dengan perkara," ungkapnya.

Penyidik juga telah mengantongi keterangan saksi Badriyah Lestari yang merupakan karyawan swasta dalam perkara ini. Badriyah didalami keterangannya terkaut dugaan pengguanaan rekening miliknya untuk membeli berbagai barang PT ACK.

"Badriyah Lestari (Karyawan Swasta) didalami pengetahuannya terkait dugaan penggunaan rekening bank milik saksi untuk pembelian berbagai barang dari PT ACK (Aero Citra Cargo)," beber Ali.

Sekadar informasi, KPK telah menetapkan tujuh tersangka kasus dugaan suap terkait perizinan ekspor benih lobster. Ketujuh tersangka itu yakni, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (EP); Stafsus Menteri Kelautan dan Perikanan, Safri (SAF) dan Andreau Misanta Pribadi (AMP).

Kemudian, Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi (SWD); Staf Istri Menteri Kelautan dan Perikanan, Ainul Faqih (AF); dan pihak swasta Amiril Mukminin (AM). Sementara satu tersangka pemberi suap yakni, Direktur PT DPP, Suharjito (SJT).

Edhy bersama Safri, Andreau Misanta, Siswadi, Ainul Faqih, dan Amril Mukminin diduga menerima suap sebesar Rp 10,2 miliar dan USD 100 ribu dari Suharjito. Suap tersebut diberikan agar Edhy memberikan izin kepada PT Dua Putra Perkasa Pratama untuk menerima izin sebagai eksportir benur.

Sebagian uang suap tersebut digunakan oleh Edhy dan istrinya, Iis Rosita Dewi untuk belanja barang mewah di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 November 2020. Sekitar Rp750 juta digunakan untuk membeli jam tangan Rolex, tas Tumi dan Louis Vuitton serta baju Old Navy.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini