Menkes Ngaku Belajar Banyak dari Epidemiolog soal Penanganan Covid-19

Binti Mufarida, Sindonews · Selasa 23 Februari 2021 12:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 23 337 2366779 menkes-ngaku-belajar-banyak-dari-epidemiolog-soal-penanganan-covid-19-fkIrUma4XF.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa pemerintah banyak belajar dari para epidemiolog untuk mengurangi laju penularan Covid-19 di Tanah Air.

“Strateginya cuma satu, tujuannya cuma satu yaitu mengurangi laju penularan. Ini saya belajar dari banyak para epidemiolog Indonesia gitu ya,” ungkap BGS sapaan akrabnya dalam talk show di Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan, Selasa (23/2/2021).

BGS mengatakan yang dia pelajari dari para epidemiolog bahwa usia virus Covid-19 tidak panjang, dalam jangka waktu 14 hari akan mati. “Yang saya belajar dari mereka usia virus ini nggak panjang, mungkin dalam waktu 14 hari dia akan mati.”

“Nah, kenapa dia jadi berbahaya? Karena dalam jangka waktu 14 hari ini, terutama 0 sampai 10, dan terutama sekali 3-5 hari, sesudah dia menular masuk manusia dia sangat infeksius. Sangat apa? Sangat mudah menular,” kata BGS.

Sehingga, kata BGS, yang perlu dijaga adalah waktu krusial pada hari ketiga dan hari kelima atau hari satu sampai sepuluh agar tidak terjadi penularan. “Nah jadi yang perlu kita jaga adalah hari ketiga, hari kelima, atau hari satu sampai hari 10 jangan sampai kalau udah ada orang yang tertular, dia bisa menularkan ke orang lain begitu kan.”

Baca Juga: Kasus Covid-19 Menurun, Epidemiolog Sebut Masyarakat Takut Kuburan Penuh

“Kalau dia menularkan ke orang lain 1 jadi 5, itu jadi masalah, apalagi 1 jadi 50, apalagi kalau 1 orang bisa menulari 500 orang. Jadi makin banyak orang yang terkena kan dalam tempo cuma 10 hari,” katanya.

Padahal, kata BGS, dari 100 orang yang terkonfirmasi positif, 20% diantaranya membutuhakan perawatan rumah sakit dan 5% diantaranya membutuhkan ICU. “Padahal kita tahu data di dunia bilang dari 100 orang yang terpapar atau konfirmasi positif, 20% itu membutuhkan perawatan rumah sakit, 5% membutuhkan perawatan ICU.”

“Nah, sebabnya yang kena kalau 100.000, kita bisa hitung 20% nya kan 20.000. Tapi yang terkena 1 juta bisa jadi 200.000 kan dia masuk butuh Rumah Sakit. Nah di situ masalahnya nantinya karena tidak cukup fasilitas kesehatan yang ada untuk menampung orang-orang yang terkena,” kata BGS.

BGS mengatakan bahwa World Health Organization (WHO) mempunyai strategi untuk mengurangi laju penularan. “Sehingga itu tadi, targetnya adalah bagaimana kita mengurangi laju penularan. Caranya gimana? WHO sudah kasih strateginya.”

Pertama yakni strategi diagnostik. “Yang pertama adalah strategi diagnostik itu ada testing, ada tracing, sama isolasi itu satu strategi sendiri. Dan 1A, 1B, 1C sendiri ya testing nya juga strategi sendiri. Tracingnya juga satu strategi,” kata BGS.

Kedua, strategi therapeutics. “Yang kedua ada strategi therapeutics. Persiapan rumah sakitnya gimana, dokternya ahlinya seperti apa mesti disiapin,” ungkap BGS.

Ketiga, kata BGS adalah strategi vaksinasi. “Strategi yang ketiga adalah strategi vaksinasi yang sekarang sudah kita lakukan.”

Keempat adalah strategi membangun sistem kesehatan publik yang baik dan perubahan perilaku. “Dan strategi keempat yang selalu penting mereka sampaikan adalah bagaimana kita bisa membangun sistem kesehatan publik yang baik. Sistem kesehatan masyarakat yang baik, yang bisa mengajari seluruh masyarakat dengan perubahan perilaku,” jelas BGS.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini