Suap Ekspor Benih Lobster, KPK Panggil Mantan Stafsus Edhy Prabowo

Arie Dwi Satrio, Okezone · Selasa 23 Februari 2021 11:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 23 337 2366738 suap-ekspor-benih-lobster-kpk-panggil-mantan-stafsus-edhy-prabowo-tf1HCkz1b2.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemeriksaan terhadap Gellwynn DH Jusuf, selaku mantan Staf Khusus (Stafsus) Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (EP), pada hari ini, Selasa (23/2/2021).

Gellwynn yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bakal diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi terkait kasus dugaan suap perizinan ekspor benih lobster (benur). Ia diperiksa untuk penyidikan Edhy Prabowo (EP).

"Yang bersangkutan dipanggil sebagai saksi untuk tersangka EP," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Selasa (23/2/2021).

Selain Gellwynn, penyidik juga memanggil sejumlah saksi lainnya yakni, dua Notaris, Alvin Nugraha da Lies Herminingsih; seorang Mahasiswa, Lutpi Ginanjar; Pimpinan BNI Cabang Cibinong, Alex Wijaya; serta Karyawan Swasta, Badriyah Lestari. Mereka juga diperiksa untuk melengkapi berkaa penyidikan tersangka Edhy Prabowo.

Belum diketahui apa yang akan digali penyidik terhadap para saksi tersebut. Namun demikian, belakangan ini KPK sedang menelusuri sejumlah uang suap ekspor benih lobster yang diduga mengalir ke sejumlah aset. Salah satunya, diduga mengalir ke sejumlah aset milik Edhy Prabowo.

KPK sendiri telah menetapkan tujuh tersangka kasus dugaan suap terkait perizinan ekspor benih lobster. Ketujuh tersangka itu yakni, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (EP); Stafsus Menteri Kelautan dan Perikanan, Safri (SAF) dan Andreau Misanta Pribadi (AMP).

Baca Juga: Edhy Prabowo: Jangankan Hukuman Mati, Lebih dari Itu pun Saya Siap!

Kemudian, Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi (SWD); Staf Istri Menteri Kelautan dan Perikanan, Ainul Faqih (AF); dan pihak swasta Amiril Mukminin (AM). Sementara satu tersangka pemberi suap yakni, Direktur PT DPP, Suharjito (SJT).

Edhy bersama Safri, Andreau Misanta, Siswadi, Ainul Faqih, dan Amril Mukminin diduga menerima suap sebesar Rp 10,2 miliar dan USD 100 ribu dari Suharjito. Suap tersebut diberikan agar Edhy memberikan izin kepada PT Dua Putra Perkasa Pratama untuk menerima izin sebagai eksportir benur.

Sebagian uang suap tersebut digunakan oleh Edhy dan istrinya, Iis Rosyati Dewi untuk belanja barang mewah di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 November 2020. Sekitar Rp750 juta digunakan untuk membeli jam tangan Rolex, tas Tumi dan Louis Vuitton serta baju Old Navy.

(kha)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini