PPKM Mikro, Okupansi RS Covid-19 di Jawa-Bali di Bawah 70%

Binti Mufarida, Sindonews · Senin 22 Februari 2021 16:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 22 337 2366354 ppkm-mikro-okupansi-rs-covid-19-di-jawa-bali-di-bawah-70-rcFl04DUW6.jpg RSD Wisma Atlet. (Foto : BNPB)

JAKARTA - Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Brigjen TNI (Purn) dr Alexander K Ginting, mengatakan bed occupancy ratio (BOR) di rumah sakit rujukan Covid-19 di wilayah Pulau Jawa-Bali di bawah 70% dampak penerapan PPKM mikro.

“Setelah PPKM mikro ini, tidak ada provinsi yang memiliki BOR rumah sakit di atas 70% di 7 provinsi yang melaksanakan PPKM skala mikro,” ucap Alex dalam dialog Dampak Pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Skala Mikro secara virtual, dari Media Center Graha BNPB Jakarta, Senin (22/2/2021).

Alex mengatakan, BOR RS di 7 Provinsi yang melaksanakan PPKM Mikro saat ini antara 50,01 hingga 60%. “Kemudian 7 provinsi yang skala mikro itu rumah sakit itu BOR-nya antara 50,01% sampai 60%. Artinya tidak sampai ada di atas 70%. Dan 4 provinsi PPKM memiliki antara 50 sampai 69%,” katanya.

Artinya, kata Alex, saat ini beban rumah sakit rujuan Covid-19 sudah turun. “Jadi artinya ini terjadi penurunan kinerja beban di rumah sakit. Kita akan lihat rumah sakit saja, kalau rumah sakit itu beban punya beban ICU dan beban isolasiya turun, maka beban di hulu itu akan turun.”

Baca Juga : Update Corona 22 Februari 2021: Positif 1.288.833, Sembuh 1.096.994 & Meninggal 34.691 Orang

“Ya kalau misalnya ada angka peningkatan yang positif di hulu biasanya di hilir itu akan bebannya naik. Hilir itu adalah rumah sakit, di hulu itu adalah komunitas,” ungkap Alex.

Alex mengatakan, kunci dari penurunan kasus Covid-19 yakni membatasi mobilitas di tingkat Desa. “Jadi, oleh karena itu memang kunci dari pemutusan rantai penularan ini adalah bagaimana membatasi mobilitas ya, mobilisasi. Dan itu bisa terjadi dengan penguncian di tingkat desa.”

Baca Juga : Kasus Covid-19 Bertambah 10.180, Jabar Tertinggi Disusul Jakarta

“Penguncian itu oleh siapa? Oleh Posko Desa. Yang melacak siapa? Tim surveilance yang ada di Puskesmas. Tim surveilance ini harus bekerja bersama-sama,” tutur Alex.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini