Melihat Banjir Jakarta, dari Era Sutiyoso, Jokowi, Ahok dan Anies

Bima Setiyadi, Koran SI · Senin 22 Februari 2021 12:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 22 337 2366147 melihat-banjir-jakarta-dari-era-sutiyoso-jokowi-ahok-dan-anies-1AlPRCvmyK.jpg Banjir di Bundaran HI, Jakarta (Foto: Okezone)

#Banjir 2007

Bang Yos sapaan akrab Sutiyoso terus berupaya agar banjir 2002 tidak kembali terulang. Anggaran sebesar Rp721 miliar disiapkan untuk meneruskan proyek Banjir Kanal Timur (BKT), termasuk juga pengerukan kali dan pembangunan pompa air.

Namun, curah hujan yang tercatat mencapai 340 mm perhari ada 2 Februari itu justru menyebabkan banjir lebih luas, dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada 2002. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan Rp4,3 triliun. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007.

#Banjir 2013

Curah hujan ekstrem kembali terjadi pada 2013 dan Jakarta kembali terendam. Bahkan, Bundaran HI yang merupakan jantung Ibu Kota pun tak bisa menghindari keruhnya banjir.

Joko Widodo (Jokowi) yang menjadi Gubernur DKI Jakarta saat itu memutuskan posisi Jakarta dalam tanggap darurat.

Jokowi menyebut dampak banjir itu telah menyebabkan kerugian hingga Rp20 triliun. Sementara pengusaha, melalui Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi, mengklaim terjadinya kerugian ekonomi lebih dari Rp1 triliun. Selain itu, Rp1 miliar harus dikeluarkan untuk menyiapkan kebutuhan pengungsi. Perusahaan Listrik Negara juga memiliki taksiran kerugian Rp116 miliar akibat terganggunya fungsi pembangkit dan peralatan distribusi dan transmisi yang mengalami kerusakan akibat tergenang air. Selain secara ekonomi, banjir juga menelan 20 korban jiwa dan 33.500 orang terpaksa mengungsi.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi berbagai masalah yang terjadi selama banjir, antara lain dengan memperbaiki tanggul, pendirian posko bantuan di titik-titik yang terkena banjir, relokasi pengungsi ke rumah susun, dan sebagainya.

Sebelum meninggalkan jabatanya menuju Istana pada 2014, Jokowi telah menyusun sejumlah program untuk mengatasi banjir. Di antaranya yaitu,Deep Tunel atau Terowongan Multiguna; Pengerukan 13 kali di Jakarta; Normalisasi Waduk Pluit; Pembuatan 100 ribu sumur resapan; penambahan RTh; sodetan Ciliwung; dan tanggul laut raksasa.

#Banjir 2015

Selepas ditinggal Jokowi, Jakarta kembali dilanda banjir pada Februari 2015. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menggantikan Jokowi menjadi Gubernur tidak menyangka hujan turun begitu deras da mengakibatkan Jakarta dikepung banjir. Bahkan, lingkungan dalam Istana pun tergenang setinggi 10cm.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini