Melacak Jejak Prajurit Mataram saat Serang Batavia

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 21 Februari 2021 06:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 21 337 2365613 melacak-jejak-prajurit-mataram-saat-serang-batavia-DGHFByhidQ.jpg Masjid Al Makmur Tanah Abang. (Foto: Okezone.com)

KERAJAAN Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung dari Mataram pernah menyerang Batavia dua kali, 1628 dan 1629. Prajurit Mataram dipimpin Tumenggung Bahureksa dan Ki Mandurareja. Jejak kedatangan prajurit Mataram masih di Jakarta.

"Cerita orang-orang dahulu nama Tanah Abang berasal dari tentara Mataram saat menyerbu ke Batavia," ujar Yahya Saputra, budayawan Betawi.

Tanah Abang saat itu adalah tanah bukit dan rawa-rawa dan dikelilingi Kali Krukut, oleh bala prajurit Mataram dijadikan sebagai satu di antara basis pertahanan. Karena tanahnya bewarna merah (abang dalam bahasa Jawa), mereka menamakan Tanah Abang (tanah merah).

Dituliskan di buku ‘Sejarah Nasional Ketika Nusantara Berbicara’ karya Joko Darmawan, persiapan untuk menyerang Batavia pun dilakukan pada tahun 1628. Pada tanggal 22 Agustus 1628, Tumenggung Bahureksa dari Kendal memimpin penyerbuan ke Benteng VOC. Sebanyak 59 perahu mendarat prajurit ke teluk Jakarta. Belasan ribu prajurit Mataram ikut menyerang Batavia. 

Di dalam kapal, juga membawa 150 ekor sapi, 5.900 karung gula, 26.600 buah kelapa dan 12.000 karung beras. 

Baca juga: Ketika Makam Gaib Sultan Agung Muncul di Giriliyo

Kini jejak pasukan Mataram dapat dilihat di sebuah masjid di Marunda dan Tanah Abang. Panglima perang Mataram, di samping prajurit juga juru dakwah. Mereka membangun surau-surau di Jakarta, yang kelak menjadi masjid-masjid tua.

Ketika ribuan prajurit Mataram dua kali gagal menyerang Jakarta, mereka banyak yang menetap dan menyebar di berbagai tempat di sekitar Jakarta. 

Sejarawan Belanda, Dr F de Haan menuliskan bahwa Kampung Marunda di Cilincing pernah dijadikan sebagai salah satu markas pasukan Mataram saat hendak memasuki Batavia.

Di tepi Pantai Marunda, pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Bahurekso membangun sebuah masjid. Di samping tempat ibadah, masjid Al-Alam dijadikan tempat menggembleng semangat para prajurit, sekaligus tempat mengatur serangan. 

Baca juga: Melihat Bung Karno Lewat Surat Cinta Romantis yang Ditulis untuk Istri-istrinya

"Masjid di pantai Marunda yang dahulunya merupakan surau, hingga kini masih terlihat kokoh," kata Yahya. 

Masjid lain yang dibangun adalah masjid Al-Mansyur di Kampung Sawah, Kelurahan Tambora, Jakarta Barat. Masjid ini dibangun pada 1717 oleh Abdul Mihit, putra Pangeran Cakrajaya, sepupu Tumenggung Mataram.

Di masjid inilah keturunan bangsawan dari Mataram melakukan pembinaan mental dengan menekankan semangat menentang penjajahan.

Masjid lainnya yang dibangun adalah Masjid Al-Makmur, yang letaknya sekitar 100 meter dari Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. 

Masjid ini dapat menampung sekitar 3.000 jamaah, merupakan masjid tertua di kawasan Tanah Abang. Awalnya, masjid tersebut hanyalah sebuah surau yang sangat sederhana.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini