Kisah Jagoan Betawi Aki Tirem Kalahkan 70 Bajak Laut dengan Tangan Kosong

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 20 Februari 2021 06:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 20 337 2365225 kisah-jagoan-betawi-aki-tirem-kalahkan-70-bajak-laut-dengan-tangan-kosong-i7zKANq498.jpg Foto: Istimewa

JAGO atau jagoan dalam susunan masyarakat betawi dianggap sebagai elite. Artinya dapat dikelompokkan dalam jajaran pemimpin. Menurut Ridwan Saidi budayawan Betawi, dalam masyarakat Betawi sejak abad ke-18, pemerintah kolonial Belanda membangun struktur kepemimpinan formal dengan adanya seorang komandan. 

Lalu komandan dibantu oleh dua belas ajudan (ajidan). Ajudan membawahi wijkmeester (bek) yang memimpin kampung. Bek lebih dikenal oleh masyarakat daripada ajidan, apalagi kumendan. Hal ini karena bek langsung berinteraksi dengan masyarakat. 

Baca juga: Sabeni Pendekar Silat Betawi yang Robohkan Prajurit Jepang dan Jago Kuntau

Tugas dan kewajiban bek antara lain, memungut pajak, memelihara keamanan dan ketertiban kampung (ronda malam, memberantas judi, mengatur tempat berdagang), menjaga kenyamanan dan kebersihan kampung, membuat surat keterangan (surat keterangan jalan, surat ijin nikah, surat kematian dan mencatat data penduduk).

"Bek pada umumnya disegani karena orang yang diangkat menjadi bek memiliki kemampuan yang handal dalam ilmu bela diri (maen pukulan). Selain itu juga karena reputasinya sebagai jagoan. Misalnya Bek Mat Ali dari Kampung Duku (kini Kampung Setiabudi)," papar Ridwan.

Baca juga: Rumah Keluarga Piere Tendean di Semarang Peninggalan Belanda

Jagoan membaca doa-doa tertentu dalam rangka peningkatan kemampuan maen pukulan. Senjata-senjata jagoan seperti golok, pisau raut biasanya diberi wafak atau rajah pada bilah logam senjata tersebut. Biasanya yang mengajarkan wafak adalah mualim.

"Karena itu banyak jago atau jagoan yang mengerjakan yang menunaikan ibadah haji. Misalnya Haji Entong Gendut (condet), Haji Ung (Kemayoran), Haji Darip (Klender), Haji Asenie (Petamburan), H. Madalih, Pitung (Kreo, Ciledug), dll," ujarnya.

Konon pada permulaan abad ke-2 M, kawasan pesisir barat laut pulau jawa dikepalai oleh seorang penghulu beranama Aki Tirem alias Aki Luhur Mulya. 

"Identitas Aki Tirem tidak diketahui dengan pasti. Kemungkinan Aki ini tinggal di tepi Kali Tirem, kampung Warakas, Tanjung Priok," ujarnya.

Aki Tirem nampaknya menerima jabatan itu dari rakyat yang menghargai sebagai seorang jago berkelahi menghadapi perampok atau bajak laut.

"Dalam riwayat diceritakan bahwa Aki Tirem pernah mengalahkan dan menghalau sekitar 70 bajak laut dibantu beberapa anak buahnya dengan tangan kosong. Aki Tirem ini disebut-sebut cikal bakal sosok jago atau jagoan yang lahir pada abad-abad selanjutnya,” beber Ridwan.

Saat awal VOC menjejakkan kaki di Bandar Kalapa dan kemudian menghancurkan kekuasaan Jayakarta, hidup dua orang jago yang tidak berpihak pada Jayakarta dan VOC.

Keduanya memiliki batas wilayah kekuasaan masing-masing yang disebut kanda kulon dan kanda wetan. Wilayah kanda kulon (pasar minggu, tanjung barat dan sekitarnya) dikuasai dan dipimpin oleh Ki Pangeran Papak. Sedangkan wilayah kanda wetan (citeureup-Cileungsi dan sekitarnya) dikuasai dan dipimpin oleh Ki Pangeran Sake.

"Jika kampung Mester (kawasan kota) menjadi benih berseminya guru-guru (ilama) betawi, maka kampung kemayoran adalah mata air jago dan jagoan betawi. Silsilah jago/jagoan betawi sulit dilacak. Silsilah jago atau jagoan betawi baru dapat ditelusuri dari akhir abad ke-19" ungkapnya. 

Di kampung Kemayoran dikenal seorang jago ahli maen pukulan bernama Murtado. Di kampung Kwitang pada awal abad ke-19 dikenal jagoan bernama Bang Puasa. Di kampung Rawa Belong ada jagoan bernama Pitung. Generasi pelanjut Murtado di kampung Kemayoran adalah Haji Ung. Di kampung Sawah Besar dikenal Ja’man, di Condet dikenal Haji Entong Gendut.

Angkatan berikutnya adalah Jeni dan Sabeni dari Tenabang, lalu Haji Darip dari kampung Klender dan Mujitaba dari kampung Petamburab. Seangkatan Mujitaba dikenal jagoan bernama Mat Item berasal dari kampung Rawabelong. 

Pada dasawarsa tahun 1940-an muncul nama H. Jaelani (Mat Jaelani di Kwitang), H. Enjen di Pasar Minggu, Derahman Jeni di Tenabang, Deraman Deos di Sao Besar dan Saibun di Kemayoran. Kemudian dasawarsa tahun 1950-an muncul nama Imam Syafii dan Ahmad Benyamin alias Mat Bendot dari kampung Senen/Tanah Tinggi dan Bir Ali dari kampung Cikini kecil. 

"Pada dasawarsa tahun 1960-an H.Asenie dari kampung Petamburan. Setelah era H.Aseni figur jago tidak muncul kembali," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini