Kasus Ekspor Benur, KPK Panggil Mantan Dirjen Perikanan Tangkap Jalan KKP

Arie Dwi Satrio, Okezone · Jum'at 19 Februari 2021 11:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 19 337 2364744 kasus-ekspor-benur-kpk-panggil-mantan-dirjen-perikanan-tangkap-jalan-kkp-LOR8RSuqk5.jpg Ilustrasi (Foto : Okezone.com)

JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemeriksaan terhadap mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Tangkap Jalan pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Zulfikar Mochtar, pada hari ini, Jumat (19/2/2021).  Sedianya, Zulfikar akan diperiksa sebagai saksi atas kasus dugaan suap pengurusan izin ekspor benih bening (benur) lobster tahun 2020. Keterangannya dibutuhkan untuk sekaligus melengkapi berkas penyidikan tersangka mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (EP).

"Yang bersangkutan dipanggil sebagai saksi untuk tersangka EP," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Jumat (19/2/2021).

Selain Zulfikar, penyidik juga memanggil sejumlah saksi lainnya yakni, Staf Menteri Kelautan dan Perikanan sekaligus Politikus Partai Gerindra, Chusni Mubarok; Sespri Andreu Misanta Pribadi, Esti Marina; Karyawan Swasta, Jaya Marlian.

Kemudian, Wiraswasta, Syaekhur Rahman; Pegawai Negeri Sipil, Elsi; Karyawan Swasta, Ade Tirta Kamandanu; serta seorang Petani, Zulhijar. Mereka juga akan dimintai keterangan untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka Edhy Prabowo.

Sekadar informasi, KPK telah menetapkan tujuh tersangka kasus dugaan suap terkait perizinan ekspor benih lobster. Ketujuh tersangka itu yakni, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo (EP); Stafsus Menteri Kelautan dan Perikanan, Safri (SAF) dan Andreau Misanta Pribadi (AMP).

Baca Juga : KPK Sita Vila Milik Edhy Prabowo

Kemudian, Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi (SWD); Staf Istri Menteri Kelautan dan Perikanan, Ainul Faqih (AF); dan pihak swasta Amiril Mukminin (AM). Sementara satu tersangka pemberi suap yakni, Direktur PT DPP, Suharjito (SJT).

Edhy bersama Safri, Andreau Misanta, Siswadi, Ainul Faqih, dan Amril Mukminin diduga menerima suap sebesar Rp 10,2 miliar dan USD 100 ribu dari Suharjito. Suap tersebut diberikan agar Edhy memberikan izin kepada PT Dua Putra Perkasa Pratama untuk menerima izin sebagai eksportir benur.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini