Sabeni Pendekar Silat Betawi yang Robohkan Prajurit Jepang dan Jago Kuntau

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 19 Februari 2021 06:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 19 337 2364602 sabeni-pendekar-silat-betawi-yang-robohkan-prajurit-jepang-dan-jago-kuntau-Vw3KPiLODU.jpg Ilustrasi silat Betawi (Foto: Okezone)

Di Republik Rakyat Tiongkok dikenal jago kungfu bernama Wong Fei Hung dan IP Man. Kisah hidup mereka telah difilmkan di Hong Kong. Di Tanah Abang, Betawi pernah muncul juga pendekar silat yang legendaris bernama Sabeni. Ia lahir sekitar tahun 1860 di Kebon Pala Tanah Abang dari orangtua bernama Hannam dan Piyah.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, terjadi pertarungan legendaris antara Sabeni dan jago kuntau. Pertarungan itu di Princen Park (sekarang Lokasari) , Sabeni berhasil mengalahkan Jago Kuntau dari Cina yang sengaja didatangkan oleh pejabat Belanda bernama Tuan Danu yang tidak menyukai aktivitas Sabeni dalam melatih maen pukulan para pemuda Betawi.

"Jago kuntau itu dibuat terkapar oleh Sabeni," ujar Yahya Saputra, budayawan Betawi.

Baca Juga:  Armada Jak Lingko Ngetem Bikin Macet Tanah Abang, Pengendara Kesal

Akhirnya Belanda mengalah, Sabeni diangkat sebagai Serehan (Kepala Kampung) di Tenabang. Tujuannya agar Sabeni tidak membuat kelompok pemberontak terhadap pemerintahan saat itu.

Pada masa penjajahan Jepang, putra Sabeni yang bernama Sapi’ie diharuskan menjadi Heiho (sukarelawan membantu tentara Jepang) seperti halnya para pemuda lainnya. Karena tidak tahan terhadap perlakuan tentara Jepang, Sapi’ie kabur dan kembali ke rumah orangtuanya.

Pihak Kempetai (Polisi Rahasia Jepang) memburunya. Sebagai jaminan, tahun 1943 Kempetai menahan Sabeni. Komandan Kempetai mendatangkan beberapa ahli beladiri langsung dari Jepang dan menantang Sabeni untuk diadu dalam duel di Markas Kempetai di Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat.

(Alm) Ali Sabeni, anak Sabeni menceritakan saat ayahnya pada usia 83 tahun bertarung dengan karateka dari Jepang. "Saya heran karateka kalau mau nendang dan mukul, kok teriak dulu,seakan memberitahu sehingga ayah bisa mengelak," ucapnya.

Baca Juga:  Kisah Tambahsia Playboy Batavia yang Tewas Digantung

Alhasil, Sabeni berhasil berkelit dari serangan-serangan prajurit Jepang. Bahkan, ia kemudian berhasil merobohkan prajurit Jepang itu dengan ilmu pukulan kelabang nyebrang. Tak lama kemudian, Sabeni harus berhadapan dengan pemain Sumo. Pemain Sumo itu juga dibuat tak berkutik lagi.

Komandan tentara Jepang tersebut menawarkan Sabeni agar melatih tentara khusus mereka di Jepang. Namun karena Sabeni sudah tua, maka muridnya yang dikirim ke Jepang.

Sabeni meninggal pada 15 agustus 1945, dikuburkan di Pemakaman Gang Kubur Lama (sekarang Jalan Sabeni), Tenabang. Untuk mengenang jasa-jasanya bagi masyarakat Betawi, dan penghargaan atas perjuangannya, jalan Kubur Lama diubah menjadi Jalan Sabeni.

Pemerintah Daerah DKI Jakarta memindahkan makam Sabeni ke ke TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Lokasi kuburannya berdekatan dengan makam almarhum M.H.Thamrin salah seorang tokoh Nasional yang juga berasal dari DKI Jakarta.

Nama Sabeni mulai diperbincangkan ketika berhasil mengalahkan Murtado, jagoan di daerah Kemayoran yang dijuluki Macan Kemayoran. Ia hendak melamar puteri si Macan Kemayoran untuk dijadikan isterinya. Namun, si Macan Kemayoran menantangnya berkelahi, dan jika dia berhasil mengalahkan Macan Kemayoran, maka lamarannya diterima. Akhirnya macan kemayoran itu berhasil dikalahkan.

Sabeni mengembangkan silat tradisional yang diberi nama Seni Maen Pukulan Sabeni Tenabang.Jurus-jurus aliran silat Sabeni terkenal karena kecepatan dan kepraktisannya. Salah satu ciri khasnya adalah permainan yang rapat dan gerak tangan yang sangat cepat.

"Aliran Silat Sabeni merupakan aliran silat yang mengutamakan pada penyerangan dan tidak memiliki kembangan serta murni untuk beladiri. Permainan aliran Sabeni cenderung bertahan, sabar menunggu kelemahan lawan. Oleh karena itu Pesilat Sabeni dikenal sebagai pesilat penyabar," ujar Yahya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini