Share

Penyidik KPK Bongkar Isi Percakapan di Handphone Kakak Penyuap Nurhadi

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 18 Februari 2021 20:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 18 337 2364507 penyidik-kpk-bongkar-isi-percakapan-di-handphone-kakak-penyuap-nurhadi-b0qlMHQNUc.jpg Sidang kasus suap perkara MA (foto: Okezone/Arie)

JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Rizka Anung Nata membongkar isi percakapan di handphone milik Hengky Soenjoto. Hengky Soenjoto merupakan kakak kandung terdakwa penyuap Nurhadi, Hiendra Soenjoto.

Dari handphone milik Hengky yang telah disita KPK itu, terungkap banyak percakapan yang diduga dijadikan alat bukti oleh penyidik dalam kasus dugaan suap pengurusan perkara di Mahkamah Agung (MA). Salah satunya, soal adanya upaya untuk pengurusan perkara PT MIT dengan PT KBN di tingkat kasasi.

Baca juga:  Kakak Kandung Penyuap Nurhadi Pernah Mengubah Keterangan

Hal itu terungkap saat Rizka Anung Nata dihadirkan sebagai saksi verbalisan dalam sidang lanjutan kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengurusan perkara di MA untuk terdakwa mantan Sekretaris MA, Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono.

"Kami banyak menggali dari hp yang kami amankan dari saudara Hengky. Karena kami tahu yang bersangkutan masih berkomunikasi dengan, Hiendra Soenjoto yang waktu itu masih DPO," ungkap Rizka di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (18/2/2021).

 Baca juga: Terungkap, Menantu Nurhadi Pernah Dipolisikan Gegara Ngutang Miliaran Rupiah

Menurut Rizka, dari handphone tersebut ada percakapan yang cukup krusial antara Hengky dan Hiendra. Percakapannya itu terkait pengurusan perkara PT MIT dengan PT KBN di tingkat kasasi. Dalam percakapan itu, ungkap Rizka, Hengky maupun Hiendra sempat menyebut nama Nurhadi dan Rezky Herbiyono.

"Menurut pemahaman saya, yang saya tanyakan ke beliau (Hengky), dan beliau juga menjawab di BAP pertama dan kedua, bahwa ada uang yang disuruh oleh saudara Hiendra Soenjoto untuk ditagihkan kepada saudara Rezky Herbiyono dan saudara Nurhadi, yang dalam bahasanya saat itu 'R' dan 'N', itu dijelaskan oleh yang bersangkutan siapa itu 'R' dan 'N', beliau sampaikan," beber Rizka.

"Dan disebutkan disitu dana kasasi. Adalah terkait dana kasasi. Saya tanyakan dana kasasi perkara apa? Beliau jawab perkara MIT VS KBN, kemudian ketika dirubah (keterangannya) saya tanyakan, kasasi UOB ini perkara yang mana? Mestinya, kalau itu ada, sudah dijelaskan oleh tim lawyer yang lain dari MIT," sambungnya.

Sekadar informasi, Hengky pernah mengubah keterangannya yang telah dituangkan dalam BAP pemeriksaan pertama dan kedua. Ia mengubah keterangannya pada saat menjalani pemeriksaan ketiga kalinya sebagai saksi di proses penyidikan Nurhadi dan Rezky.

Keterangannya yang diubah oleh Hengky yaitu terkait pengurusan perkara PT MIT dan PT KBN. Hengky mengubahnya menjadi pengurusan perkara PT MIT dengan UOB.

"Padahal itu tidak ada dalam pembahasan sebelumnya (soal UOB), dalam chat-chat dia dengan Hiendra Soenjoto pun tidak ada UOB tuh," ungkap Rizka.

Disisi lain, Nurhadi maupun Rezky Herbiyono, melalui kuasa hukumya, Muhammad Rudijto, tidak merasa keberatan terkait adanya pengubahan keterangan dari saksi Hengky Soenjoto dalam BAP. Menurut Rudjito, keterangan Hengky yang diubah tersebut masuk akal.

"Kami tidak keberatan, apa yang disampaikan oleh saudara Hengky ketika melakukan perubahan itu masuk akal," kata Rudjito.

Namun demikian, Rudjito mempermasalahkan ihwal adanya percakapan di handphone milik Hengky yang menyinggung nama Nurhadi dan Rezky. Rudjito mengaku tidak percaya ada percakapan yang membahas pengurusan PT MIT dengan PT KBN pada saat itu.

"Berkaitan dengan Chat WhatsApp itu pada Agustus 2017. Kalau itu dikaitkan dengan perkara gugatan yang kedua antara MIT dengan KBN yang diputus pada Desember 2017 itu enggak mungkin, karena apa? di chatting dia sudah minta duit atas suatu perkara yang katanya diurus oleh Rezky yang notabene belum pernah diputus, tapi dia sudah minta di awal," beber Rudjito.

Sekadar informasi, mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono didakwa menerima suap sebesar Rp45.726.955.000. Uang suap Rp45,7 miliar itu diduga berasal dari Direktur Utama (Dirut) PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT), Hiendra Soenjoto.

Uang yang diberikan Hiendra tersebut untuk mengupayakan Nurhadi dan Rezky Herbiyono dalam memuluskan pengurusan perkara antara PT MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN) terkait gugatan perjanjian sewa menyewa depo kontainer di Cilincing, Jakarta Utara.

Tak hanya itu, Nurhadi dan Rezky juga didakwa menerima gratifikasi. Keduanya diduga menerima gratifikasi sebesar Rp37.287.000.000 dari sejumlah pihak yang berperkara di lingkungan Pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, hingga peninjauan kembali.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini