Dampak Pandemi Covid-19, KPAI: Jumlah Anak Putus Sekolah dan Pernikahan Dini Meningkat

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Rabu 17 Februari 2021 13:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 17 337 2363563 dampak-pandemi-covid-19-kpai-jumlah-anak-putus-sekolah-dan-pernikahan-dini-meningkat-A3qbgwRfcL.jpg Covid-19.(Foto:Dok Okezone)

Kebijakan BRD juga berdampak meningkatnya pernikahan pada anak. Selain itu, para siswa memilih bekerja membantu ekonomi keluarga karena orangtua yang kehilangan pekerjaan dan berhenti sekolah.

Retno menambahkan, meningkatnya angka anak putus sekolah dan menikah saat pandemi Covid-19 tersebut diketahui saat KPAI melakukan pengawasan penyiapan buka sekolah di masa pandemi.

Dari delapan provinsi yang dipantau beberapa kepala sekolah menyampaikan bahwa ada peserta didiknya yang putus sekolah karena tidak memiliki alat daring, tidak mampu membeli kuota internet dan akhirnya ada yang memutuskan bekerja dan menikah.

"Dari temuan KPAI, ada 119 peserta didik yang menikah, laki-laki maupun perempuan, yang usianya beriksar 15-18 tahun," ujar Retno.

Pihak sekolah mengetahui siswanya menikah atau bekerja dari kunjungan ke rumah orangtua peserta didik, berawal dari tidak munculnya anak-anak tersebut saat PJJ berlangsung dan tidak pernah lagi mengumpulkan tugas. Saat didatangi wali kelas dan guru bimbingan konseling, sekolah baru mengetahui bahwa siswa yang bersangkutan menikah, atau bekerja.

"Ada kisah inspiratif di Kabupaten Bima dimana pihak sekolah berhasil membujuk siswa dan orangtua untuk melanjutkan pendidikan yang tinggal beberapa bulan lagi ujian kelulusan. Usaha para guru tersebut patut di apresiasi,” kata Retno.

Dari data diperoleh jenis pekerjaan para siswa umumnya pekerjaan informal seperti tukang parkir, kerja dicucian motor, bekerja di bengkel motor, di percetakan, berjualan bensin di rumah, asisten rumah tangga (ART) dan ada juga yang membantu usaha orangtuanya karena sudah tidak mampu lagi membayar karyawan.

(saz)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini