Dampak Pandemi Covid-19, KPAI: Jumlah Anak Putus Sekolah dan Pernikahan Dini Meningkat

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Rabu 17 Februari 2021 13:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 17 337 2363563 dampak-pandemi-covid-19-kpai-jumlah-anak-putus-sekolah-dan-pernikahan-dini-meningkat-A3qbgwRfcL.jpg Covid-19.(Foto:Dok Okezone)

JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hampir setahun, berdampak pada meningkatnya jumlah anak yang putus sekolah dan pernikahan dini di Indonesia.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti mengatakan, angka anak putus sekolah dan pernikahan dini lantaran diperpanjangnya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

"Pertama, tingginya angka pengaduan orangtua siswa karena kesulitan membayar SPP di berbagai daerah," kata Retno dalam keterangannya, Rabu (17/9/2021).

Baca Juga: Catat! Hewan-Hewan Ini Berpotensi Sebarkan Covid-19 di Masa Depan

KPAI menerima pengaduan terkait masalah pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) saat pandemi Covid-19, terutama di sekolah-sekolah swasta. Kasus-kasus tersebut diselesaikan melalui mediasi dengan melibatkan Dinas Pendidikan.

Pengaduan mulai dari meminta pengurangan SPP karena adanya kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) dan masalah tunggakan SPP, mulai dari tunggakan 3 bulan sampai 10 bulan.

Baca Juga: Vaksinasi Covid-19 di Pasar Tanah Abang Berpotensi Diperpanjang?

"Pengaduan meliputi jenjang PAUD sampai SMA/SMK, baik sekolah negeri maupun swasta, tetapi yang terbanyak sekolah swasta," ujar dia.

Retno menerangkan, KPAI menerima laporan pengaduan tunggakan SPP tersebut dari delapan provinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Lampung, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Bali, dan Riau.

"Meskipun DKI Jakarta masuk pengaduan terbanyak, namun Dinas Pendidikan DKI Jakarta sangat kooperatif dalam upaya menyelesaikan dan memiliki program Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan KJP Plus bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu, sehingga memudahkan penyelesaian," imbuhnya.

Kebijakan BRD juga berdampak meningkatnya pernikahan pada anak. Selain itu, para siswa memilih bekerja membantu ekonomi keluarga karena orangtua yang kehilangan pekerjaan dan berhenti sekolah.

Retno menambahkan, meningkatnya angka anak putus sekolah dan menikah saat pandemi Covid-19 tersebut diketahui saat KPAI melakukan pengawasan penyiapan buka sekolah di masa pandemi.

Dari delapan provinsi yang dipantau beberapa kepala sekolah menyampaikan bahwa ada peserta didiknya yang putus sekolah karena tidak memiliki alat daring, tidak mampu membeli kuota internet dan akhirnya ada yang memutuskan bekerja dan menikah.

"Dari temuan KPAI, ada 119 peserta didik yang menikah, laki-laki maupun perempuan, yang usianya beriksar 15-18 tahun," ujar Retno.

Pihak sekolah mengetahui siswanya menikah atau bekerja dari kunjungan ke rumah orangtua peserta didik, berawal dari tidak munculnya anak-anak tersebut saat PJJ berlangsung dan tidak pernah lagi mengumpulkan tugas. Saat didatangi wali kelas dan guru bimbingan konseling, sekolah baru mengetahui bahwa siswa yang bersangkutan menikah, atau bekerja.

"Ada kisah inspiratif di Kabupaten Bima dimana pihak sekolah berhasil membujuk siswa dan orangtua untuk melanjutkan pendidikan yang tinggal beberapa bulan lagi ujian kelulusan. Usaha para guru tersebut patut di apresiasi,” kata Retno.

Dari data diperoleh jenis pekerjaan para siswa umumnya pekerjaan informal seperti tukang parkir, kerja dicucian motor, bekerja di bengkel motor, di percetakan, berjualan bensin di rumah, asisten rumah tangga (ART) dan ada juga yang membantu usaha orangtuanya karena sudah tidak mampu lagi membayar karyawan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini