Kisah Dua Srikandi Penggal Kepala Tentara Gurkha saat Revolusi Kemerdekaan

Fahmi Firdaus , Okezone · Selasa 16 Februari 2021 06:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 16 337 2362649 kisah-dua-srikandi-penggal-kepala-tentara-gurkha-saat-revolusi-kemerdekaan-TddtRE0DIP.jpg Tentara Gurkha/ Daily Mail

SATGAS Pamtas RI-Malaysia Yonarhanud 16/SBC Pos Lumbis menemukan belasan granat tangan dan ratusan amunisi kaliber 7.62 mm. Penemuan granat tangan dan tersebut adalah kelanjutan dari penemuan pertama.

(Baca juga: Kisah Sajadah Pemberian Wismoyo Arismunandar ke Prabowo Sebelum Bertempur di Palagan Timor)

Diduga granat dan amunisi itu merupakan sisa peninggalan dari tentara Gurkha saat konfrontasi Indonesia-Malaysia tahun 1965 di Hutan Lumbis, Kecamatan Lumbis Hulu, Kabupaten Nunukan.

Gurkha atau Gorkhali adalah pasukan tentara Nepal yang berperang dengan Kongsi Dagang Hindia Timur Britania (East India Company) di tahun 1814. Ketika itu Inggris mendeklarasikan perang terhadap Nepal. Inggris pun terkesan dengan daya juang tentara Gurkha, kemudian mengajak pasukan ini untuk masuk ke dalam kesatuan mereka.

(Baca juga: 56 Tahun Terkubur, Granat dan Amunisi Tentara Gurkha saat Bertempur di Indonesia Ditemukan)

Gurkha disebut-sebut sebagai salah satu tentara paling berbahaya di dunia. Berbahaya, lantaran Gurkha tidak memiliki rasa takut.

Pejuang Indonesia saat masa revolusi kemerdekaan pernah bertempur dengan pasukan Gurkha dan tentara Inggris.

(Baca juga: Curiga Berselingkuh, Pria ini Penggal dan Tenteng Kepala Istrinya ke Kantor Polisi)

Dalam buku "Sekilas Sejarah Peristiwa Perjuangan Bandung Lautan Api" karya HME Karmas, dikisahkan Emen, seorang tukang becak yang ikut melakukan perlawanan bersama para pemuda dan Tentara Republik Indonesia (TRI – sekarang TNI), melakukan aksi heroik yang sedikit cenderung nekat.

Saaat itu, Emen menerjang ke atap tank baja Inggris dan menumpahkan bensin, sekaligus melempar api ke kabin tank. Sontak, tank Inggris meledak hingga menewaskan kru tank Inggris dan juga Emen sendiri.

Beberapa kejadian yang mencengangkan turut dilakukan para wanita terhadap Inggris. Di antara para kombatan wanita, tersebutlah dua nama legendaris, ‘Zus’ (sebutan wanita pada masa itu) Willy dan ‘Zus’ Susilawati.

‘Zus’ Willy yang tergabung di Kesatuan Laswi (Lasjkar Wanita) memenggal kepala seorang tentara Gurkha setelah menembaknya terlebih dulu dalam pertempuran dekat Ciroyom. Kepala tentara Gurkha itu ditebas dengan Gunto (pedang samurai) dan potongan kepalanya diserahkan pada Komandan Laswi, Ibu Arudji.

Namun yang lebih ekstrem adalah ‘Zus’ Susilawati. Perwira wanita Polisi Tentara ini mengeksekusi kepala seorang Gurkha dan mengarak potongan kepala itu dari Jalan Cibadak sampai ke Markas Divisi III di Regentsweg. Dari situ, potongan kepala Gurkha itu dikirimkan ke Markas TRI di Yogyakarta.

Peristiwa itu benar adanya dan diungkapkan pula oleh Abdul Haris Nasution, Komandan Divisi III Siliwangi saat itu, dalam buku ‘Indonesian Destiny’, karya sejarawan Amerika Serkat, Theodore Friend.

“Suatu pagi seorang wanita pejuang muda menghentikan kudanya di depan pintu, turun dan menempatkan kepala terputus dari petugas gurkha di depan saya di atas meja bersama-sama dengan pitanya. Wanita itu dipanggil Susilowati,” beber Nasution yang saat peristiwa itu berpangkat kolonel.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini