Janji Palsu Dai Nippon Berujung Pemenggalan Prajurit PETA di Pantai Ancol

Fahmi Firdaus , Okezone · Minggu 14 Februari 2021 09:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 14 337 2361698 janji-palsu-dai-nipppon-berujung-pemenggalan-prajurit-peta-di-pantai-ancol-IFkaEpojJR.jpg Museum PETA/ Okezone

PASUKAN PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar, di bawah pimpinan Soeprijadi (EYD: Supriyadi) melakukan pemberontakan pada 14 Februari 1945 atau tepat 76 tahun silam. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan penjajah dengan memanfaatkan pasukan pribumi yang tak terlibat pemberontakan, baik dari satuan PETA maupun Heiho.

(Baca juga: Kisah Prajurit Elite TNI AL Keturunan Tionghoa Bikin Takjub Tentara Inggris saat Konfrontasi Malaysia)

Dikutip dari buku ‘Pahlawan Nasional: Supriyadi’ yang dituliskan Ratnawati Anhar, Supriyadi yang kala itu menjabat Komandan Peleton (Danton) I Kompi III/Bantuan di Daidan PETA Blitar berpangkat Shodancho (setara letnan), memberontak karena tak tahan lagi melihat penderitaan rakyat, terutama para romusha (pekerja paksa) akibat perlakuan Jepang.

(Baca juga: Breaking News: Pasukan TNI Baku Tembak dengan KKB Papua, Satu Prajurit Terluka)

Sebelum pemberontakan meletus, rapat rahasia digelar di Asrama Daidan Blitar, tepatnya di kamar Budancho Halir Mangkudijaya, dengan dihadiri Supriyadi, Shodancho Muradi (Danton II Kompi III/Bantuan), serta dua anggota PETA lainnya. Pertemuan rahasia ini untuk lebih dulu menyepakati adanya pemberontakan.

“Bagaimana kalau kita mengadakan pemberontakan melawan tentara Jepang?” seru Supriyadi dalam buku tersebut, yang kemudian dijawab “Setuju!” oleh rekan-rekannya.

Baru setelah beberapa kali rapat perencanaan pada 1944, mereka berencana mengatur strategi yang bahkan, sempat mencanangkan memancing pemberontakan pula di Daidan Tuban dan Bojonegoro.

Meletusnya Pemberontakan Blitar

Februari 1945, peluru-peluru dan sejumlah granat sudah dibagikan. Susunan kelompok juga sudah dibentuk dengan dipimpin sendiri oleh Supriyadi dengan komandan pertempurannya Muradi. Rencananya jika pemberontakan berhasil di Blitar, mereka akan segera bergerak ke Madiun, Tuban, dan Bojonegoro.

Kepada Bupati dan Kepala Kepolisian Blitar, Supriyadi lebih dulu melakukan kontak dengan menyatakan sejumlah anggota PETA akan latihan besar-besaran dengan peluru tajam. Tujuannya agar rakyat sekitar tidak panik.

Tepat pukul 03.30, Supriyadi meneriakkan: “Hajimeee!!!! (mulai!)” yang jadi penanda anak-anak buahnya bergerak ke kantor Kempeitai (Polisi Khusus Jepang) Blitar dan menyerang dari tiga jurusan. Serdadu Jepang dan Kempeitai sempat terkejut meski sayangnya pemberontakan itu bisa dipadamkan.

Pemadaman pemberontakan itu dilakukan dengan upaya yang cenderung persuasif. Beberapa unit PETA lainnya dari Kediri dan Malang, didatangkan untuk membujuk kelompok-kelompok yang memberontak untuk menyerah.

Seperti pada 21 Februari 1945 petang, Muradi dan kelompoknya “terpaksa” berunding dengan Kolonel Katagiri di daerah Ngancar. Mereka “ditawarkan” untuk mau kembali ke Daidan Blitar, tapi Muradi memberi syarat bahwa Jepang takkan menghukum kelompok-kelompok pemberontak yang sudah menyerah. Namun ternyata Jepang ingkar janji. Sejumlah pasukan pemberontak yang tersisa dan tertangkap, disiksa hingga dipenggal Jepang di Ereveld, Pantai Ancol, Jakarta Utara.

Teka-Teki Menghilangnya Supriyadi

Lalu bagaimana Supriyadi? Beliau menegaskan enggan menyerah seperti yang lain dan memilih dibunuh bangsa sendiri dari pada menyerah. Supriyadi menyatakan hal itu saat tercatat berada di rumah Kepala Desa Sumberagung yakni Harjomiarso pada 18 Februari 1945.

Terakhir kali Supriyadi terlihat adalah pada 21 Februari pukul 02.00, ketika meninggalkan Desa Sumberagung ke arah barat dan rencananya menuju Trenggalek, tempat kelahirannya.Namun setelah itu Supriyadi hilang secara misterius.

Hingga kini hilangnya sosok pencetus pemberontakan itu tetap jadi misteri dan meninggalkan beberapa versi kisahnya.

PETA sendiri merupakan satu dari bibit cikal bakal TNI yang ada saat ini. Pasukan ini dibentuk Jepang saat menduduki Indonesia (dulu Hindia Belanda) dengan tujuan, sebagai kekuatan cadangan seandainya sekutu masuk ke Indonesia di masa Perang Dunia II Front Pasifik.

Tentara PETA dibentuk pada 3 Oktober 1943, berdasarkan maklumat Osamu Seirei No. 44 yang diumumkan Panglima Tentara Ke-16, Letnan Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela.

Awalnya, PETA melalui Seinen Dojo (Barisan Pemuda) hanya menerima para pemuda pribumi yang punya darah “biru” alias bangsawan dan kerabatnya, serta pemuda-pemuda terpelajar. Namun seiring berjalannya waktu, Peta juga membuka pendidikan untuk rakyat jelata.

Dari awal pembentukannya hingga pembubarannya kala Jepang kalah dari sekutu di Front Pasifik, PETA banyak melahirkan tokoh-tokoh militer Indonesia yang kemudian jadi figur penting dalam perlawanan terhadap Belanda saat kembali menjajah Indonesia.

Seperti Panglima Besar Jenderal Soedirman, Ahmad Yani, Sarwo Edhie Wibowo, Supardjo Rustam, Sumitro, Kemal Idris, Umar Wirahadikusuma, hingga Soeharto.

Oleh karena itu, untuk mengenang mereka yang gugut saat pemberontakan PETA, setiap tanggal 14 Februari diperingati sebagai Hari Perjuangan Perlawanan PETA. Pemerintah juga membangun patung pimpinan Pasukan PETA Supriyadi di depan museum dan monumen PETA di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kota Bogor.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini