Kisah Tambahsia Playboy Batavia yang Tewas Digantung

Doddy Handoko , Okezone · Sabtu 13 Februari 2021 10:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 13 337 2361336 kisah-tambahsia-playboy-batavis-yang-tewas-digantung-iSawbYwWrs.jpg Oey Tambahsia (Foto: Wikipedia)

DULU di Batavia terdapat seorang playboy bernama Oey Tambahsia. Kisah mengenai Oey Tambahsia, dapat ditemui dalam cerita rakyat Betawi berbentuk syair, dengan judul Sair Oey Tambahsia.

Ia anak ketiga Oey Thoa (pedagang besar Cina asal Pekalongan) pemilik toko tembakau terbesar di Jl. Toko Tiga (Jakarta). Pada tahun 1937, Jalan Toko Tiga di Jakarta Kota merupakan pusat perdagangan yang ramai.

Setelah ayahnya meninggal, Oey bersama adiknya menerima warisan besar. Warisannya beberapa bidang tanah luas di Pasar Baru, daerah Curug, Tangerang yang sewanya 95.000 gulden setahun, daerah Pintu Kecil Jakarta yang sewanya 40.000 gulden setahun.

"Selain itu juga tanah, rumah, barang dagangan, uang dan perhiasan sejumlah dua juta gulden lebih,"jelas Budayawan Betawi, Ridwan Saidi.

Baca Juga:  Kisah Pembunuhan PSK Penghuni Rumah Bordil Era Hindia Belanda

Ketika memenuhi undangan Bupati Pekalongan Tambah berkenalan dengan seorang pemuda Cina bemama Liem Su King, yang kemudian pindah ke Betawi.

Pada suatu ketika, Tambahsia mendengar dari kaki-tangannya bahwa seorang perempuan kerabatnya jatuh hati kepada Liem. Pendekatan dengan cara apa, ternyata tidak ditanggapi oleh Liem.

Oey Tambahsia menganggap hal ini sebagai penghinaan dan aib besar bagi keluarganya. Oey bertekad untuk menyingkirkan Liem Soe King. Oey menggodok rencananya masak-masak. Ia menyuruh kokinya menbuat kue yang harus diisi dengan roomvla (seperti isi kue sus, rasanya manis).

Kue itu disuruhnya hidangkan di atas piring dan ditaruh di kamar Tambahsia.Roomvla-nya tidak diisikan dulu. Lalu Tambahsia mengambil racun dan dicampurnya dengan roomvla.

Ia memerintah seseorang memanggil seorang begundalnya yang bernama Oey Tjoen Kie (Tjeng Kie). Antek yang biasa disuruh mencarikan perempuan itu bergegas ke rumah majikannya. Didapatkan Tambahsia sedang tidur-tiduran sambil menghisap madat.

Ia mempersilakan Tjoen Kie iktu mengisap. Tawaran itu diterima dengan senang hati.Setelah bersama-sama meneguk teh panas, Tjoen Kie merasa lapar dan makan kue-kue di piring tanap dipersilakan lagi. Begundalnya itu sekarat.

Baca Juga:  Nyai Dasima, Gadis Dusun Kuripan Bogor Membuat Tuan Edward Bertekuk Lutut

Dia membujuk begundalnya itu agar mau memberikan keterangan tertulis bahwa yang memberi racun itu adalah Liem Soe King. Keadaan Tjoen Kie makin lama makin parah, sehingga setuju dibuatkan keterangan tertulis di muka notaris yang dipanggil oleh Oey , disaksikan oleh polisi dan pejabat lain.

Menurut pengakuan yang didiktekan oleh Oey, Tjoen Kie disuruh menagih utang kepada Liem, tetapi tidak dibayar. Sebaliknya ia persilakan duduk dan diberi minuman. Ketika perutnya mulai sakit, ia melapor kepada Tambahsia.

Tidak lama setelah menandatangani pernyataan itu Tjoen Kie meninggal. Mayatnya dibawa ke Stadsverband (rumah sakit) di Glodok untuk diperiksa. Sementara itu Tambahsia mengirimkan peti jenazah dan pelengkapan lain ke rumah keluarga mendiang di jembatan Lima. Polisi membuat proses verbal lalu mencari Liem Soe King yang dituduh membunuh Oey Tjoen Kie.

Di rumah Liem Soe King, polisi mendapat keterangan bahwa Liem sudah empat hari tidak pulang. Diduga ia sedang sibuk main judi di rumah perkumpulannya.

Sementara itu Liem Soe King berhasil ditemukan di salah sebuah rumah judi di Meester Cornelis (Jatinegara) oleh orang-orang suruhan mertuanya. Liem sangat terkejut oleh tuduhan yang ditimpakan kepadanya Ia segera menghadap mertua, memberitahukan bahwa ia tahu-menahu perkara pembunuhan itu. Setelah itu ia langsung melapor ke polisi.

Karena menurut bukti-bukti tertulis Liem terlibat peracunan, polisi terpaksa menahannya, sementera mereka mengumpulkan bukti-bukti dan saksi-saksi lain untuk menyusun berkas perkara. Mayor Tan Eng Goan tentu saja tidak tinggal diam, ia berusaha menyelamatkan menantunya.

Ia mendapat keterangan bahwa Liem tidak berada di tempat kejadian saat peristiwa peracunan itu. Liem memiliki alibi kuat yang didukung empat saksi. Kegemarannya berjudi menyelamatkannya dari perangkap Oey Tambahsia.

Empat orang kawan mainnya di rumah judi, salah seorang diantaranya jaksa dari bekasi, membuat pernyataan di bawah sumpah, karena itu , polisi yang tidak yakin dengan kesalahan Liem, mengeluarkannya dari tahanan.

Pada akhirnya Liem-lah yang berani membongkar semua kejahatan Tambahsia sampai pengadilan menjatuhkan hukuman mati di tiang gantungan.

Di sidang pengadilan, Oei terus menyangkal semua tudahan, walaupun tuduhan jaksa di dukung oleh saksi-saksi dan bukti-bukti yang meyakinkan. Keluarga Oey meminta jasa seorang pengacara terkenal masa itu, yaitu Mr.B. Bakker yang mendapat honor tinggi di samping hadiah seratus gulden kalau ia berhasil menyelamatkan Oey Tambahsia.

Mr. Bakker tidak bisa membantah bukti yang diajukan penuntut umum.Akhirnya, hakim ketua mejatuhkan hukum mati di tiang gantungan kepada Oey Tambahsia.

Pada hari yang ditentukan untuk pelaksanaan hukuman matinya, Oey Tambahsia menaiki mimbar tempat tiang gantungan di Gedung Balai Kota Stadhuis (sekarang Museum Jakarta) .

Oey menaiki tiang gantungan dengan tenang dan wajah berseri dalam usia 31, berakhirlah riwayat Oey Tambahsia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini