Share

Imlek, Antara Hujan Keberuntungan dan Kerugian

Bima Setiyadi, Koran SI · Senin 08 Februari 2021 16:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 08 337 2358601 imlek-antara-hujan-keberuntungan-dan-kerugian-w9uqrN9RC6.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Sejumlah wilayah Jakarta dan sekitarnya mengalami banjir setelah diguyur hujan deras. Hal ini kerap terjadi jelang perayaan Imlek atau tahun baru China. Pada tahun ini, perayaan Imlek jatuh pada 12 Februari mendatang.

Perayaan Imlek memang identik dengan musim hujan. Mungkin sering didengar oleh orang Tionghoa yang berada di Indonesia, bahwa hujan selalu ada menjelang perayaan Chinese New Year.

Menurut Ahli Feng Shui, Suhu Yo, hujan adalah tanda keberuntungan. Di Jakarta, kawasan-kawasan elite seperti Kelapa Gading, sering terkena banjir.

Baca Juga:  Kampung Dalam Cawang Atas Banjir, Lokasi Pengungsian Disebar ke 5 Lokasi

Kawasan tersebut bisa dibilang sebagai wilayah ‘Kepala Naga’ dan banjir yang terjadi saat ini dianggap sebagai sebagian orang keberuntungan. Namun, bagi mereka yang tidak merayakan imlek, tentunya berharap supaya tidak hujan deras dan tidak menyebabkan banjir. Hal itu terlihat dari berbagai komentar warganet di media sosial.

"Seminggu ke depan yang rawan: Mau imlek -> hujan deras tiap hari -> banjir -> listrik mati -> ga bisa kerja. Semoga ga terjadi, soalnya seminggu ini minggu yang sibuk banget," tulis @agungwanto yang dikutip Senin (8/2/2021)

"Plis imlek taun ini jangan banjir dirumah," tulis Anaknyamargono

"Ujan deh gapapa nyampe imlek. Tapi jangan pake banjir," sambung akun @dontca11meangel

Baca Juga:  Jakarta Banjir, 1.700 Warga Bidara Cina Mengungsi

Lalu bagaimana supaya hujan yang kerap berujung banjir jelang Imlek dapat membawa keberuntungan bagi semua pihak?

Pengamat Perkotaan Universitas Trisakti Nirwono Joga, mengatakan, hujan harus dilihat sebagai berkah atau membawa keberuntungan bagai semua masyarakat. Menurutnya, cara pandang itu sudah tumbuh pada masyarakat Jepang sehingga saat musim hujan tiba mereka membuat festival hujan untuk menyambut dan merayakan datangnya hujan.

"Air hujan harus dianggap sebagai anugerah sumber kehidupan sehinga air yang berlimpah dikelola dengan baik dalam bentuk merawat dan membenahi sungai dengan baik (bukan tempat buang sampah dan tempat permukiman)," kata Nirwono saat dihubungi, Senin (8/2/2021)

Selain itu, lanjut Nirwono, daerah lahan basah berupa situ danau, embung, waduk dan rawa rawa dipelihara, dijaga dan dikonservasi, bukan diuruk diganti untuk peruntukan. Kemudian, menjaga rawa dan hutan mangrove pesisir, bukan membabat dan menguruk untuk pemukiman atau membangun tanggul raksasa, serta membangun sistem saluran air kota yang memadai seperti bedimensi besar, kapasitas besar, terhubung baik, tidak ada sampah atau lumpur atau dijejali jaringan utilitas yang timpang tindih.

"Jika hal-hal itu yg dilakukan ke depan setiap kali hujan akan memberi keberuntungan," tegasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini