Kepala BNPT Ungkap 2.000 Masyarakat Indonesia Terjerat Kasus Terorisme

Arie Dwi Satrio, Okezone · Jum'at 05 Februari 2021 16:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 05 337 2357174 kepala-bnpt-ungkap-2-000-masyarakat-indonesia-terjerat-kasus-terorisme-mVoO5pMPsp.jpg Boy Rafli Amar. (Foto: Humas BNPT)

JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Boy Rafli Amar membeberkan, hampir 2.000 masyarakat Indonesia terjerat kasus tindak pidana terorisme. Data itu, kata Boy, tercatat sejak 20 tahun ke belakang. 

Demikian diungkapkan Boy Rafli Amar saat jumpa pers, sekaligus sosialisasi Peraturan Presiden (Presiden) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstrisme (RAN-PE) yang digelar secara daring.

"Sudah hampir 2.000 masyarakat Indonesia terkena berkaitan dengan kasus tindak pidana terorisme, setidak-tidaknya dalam kurun waktu 20 tahun terakhir," beber Boy Rafli Amar dalam tayangan yang diunggah oleh akun Youtube milik Humas BNPT, Jumat (5/2/2021).

Baca juga: Eks Pimpinan FPI Sulsel Bantah Pernyataan Terduga Teroris Makassar soal Baiat ke ISIS

Bahkan, sambung Boy, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang terpapar paham radikalisme, hingga nekat berangkat ke Irak dan Suriah. Berdasarkan catatan yang dikantongi Boy, ada 1.250-an orang yang telah berangkat ke Irak dan Suriah. 

"Jadi tercatat dari data keberangkatan itu, ada 1.250-an, di mana sebagian mereka sudah mati, sebagian mereka ditahan, yang wanita di dalam camp pengungsian, anak-anak juga demikian," terangnya.  

Baca juga: 19 Anggota FPI Diduga Calon "Pengantin" Bom Gereja, Ini Reaksi Pengacara Habib Rizieq

Ditekankan Boy, peristiwa itu terjadi akibat adanya proses radikalisasi masif yang terjadi, baik face to face maupun lewat media sosial. Kemudian, paham-paham radikalisme itu mempengaruhi cara berpikir dan sikap seseorang untuk menjadi ekstrim. 

"Dalam artian di sini, setuju dengan tawaran-tawaran seperti itu. Kalau dia tidak setuju, dia tidak akan berangkat," ungkap Boy. 

"Jadi itu bukti bahwa alam pikirannya dipengaruhi hingga akhirnya dia setuju, dia berangkat. Demikian juga yang di dalam negeri, yang terlibat aksi kekerasan, itu dikarenakan cara berpikirnya sudah berlebihan ekstrim, tidak lagi menghargai hukum, demokrasi, konstitusi, tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan," sambungnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini