Kilas Balik AHY, dari Tentara hingga Isu Kudeta Partai Demokrat

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Rabu 03 Februari 2021 10:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 03 337 2355587 kilas-balik-ahy-dari-tentara-hingga-isu-kudeta-partai-demokrat-wam7Zjs8J0.jpg Ketum Partai Demokrat AHY.(Foto:Dok Okezone)

JAKARTA - Ponsel Mayor Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berdering. Panggilan itu datang dari ayahnya, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat dirinya tengah mengikuti latihan bersama pasukan TNI Angkatan Darat dengan pasukan AD Australia di Darwin pada 22 September 2016 lalu.

SBY yang saat itu menjabat Ketua Umum Demokrat, mengajak bicara putranya mengenai situasi politik di DKI Jakarta. Saat itu, SBY menyampaikan kepada AHY adanya tawaran dari PPP, PKB, PAN, termasuk Demokrat untuk mengusungnya sebagai calon gubernur (cagub) DKI Jakarta.

Waktu Agus tak banyak. Sebab, kala itu batas akhir pendaftaran pencalonan sudah di depan mata. Sehari sebelum memutuskan maju di Pilgub DKI, Agus langsung bertolak ke Tanah Air.

Baca Juga: Sindiran Nyelekit Demokrat untuk Moeldoko: Jika Mau Jadi Capres 2024 Bikin KTA Dulu

"Tapi, untungnya kami prajurit terbiasa menghadapi situasi yang genting, enggak banyak waktu mengambil keputusan. Dalam sempitnya waktu izinkan saya berpikir, dan saya tutup telepon," ujar Agus dalam konpers 'Di Balik Keputusan Agus Yudhoyono' di Cibubur, Depok, Jawa Barat, Senin 3 Oktober 2016.

Baca Juga: Pendiri Demokrat: Dulu Kami Jemput SBY, dan Sekarang Moeldoko

Agus mengungkapkan, sebenarnya SBY juga kaget karena dirinya diminta maju sebagai cagub DKI Jakarta. Dia juga memastikan bahwa tak ada paksaan dari pihak manapun lantaran keputusannya keluar dari militer untuk maju sebagai calon DKI1.

"Kalau ditanya, dipaksa atau tidak, saya sudah dewasa, saya punya kepribadian dan karakter sendiri sehingga tidak mungkin disetir, apalagi dipaksa siapa pun, termasuk orangtua sendiri," ucap dia.

Langkah AHY diketahui terhenti di putaran pertama Pilgub DKI Jakarta. Berpasangan dengan Silvyana Murni, ia mendapat suara paling kecil. Putaran kedua Pilgub DKI Jakarta dimenangkan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang menumbangkan petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat.

Kepalang tanggung, suami dari Annisa Pohan itu langsung terjun ke dunia politik setelah gagal menjadi orang nomor satu di Ibu Kota. AHY terpilih secara aklamasi dalam acara Kongres V Demokrat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Minggu 15 Maret 2020.

Dalam pidato perdananya, ia mengaku bergetar saat didapuk melanjutkan kepemimpinan SBY di partai berlambang Mercy itu. Dia pun berjanji membangkitkan semangat, dan kebersamaan bersama para kader untuk memperkuat partai selama lima tahun ke depan.

"Hati saya bergetar. Tak kuasa meneteskan air mata karena terharu. Terharu melihat semangat yang luar biasa hari ini," kata AHY.

Belum setahun menjabat Demokrat1, kini kepemimpinan AHY digoyang dengan isu kudeta yang belakangan disebut-sebut diinisiasi Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko. Menariknya, sosok yang berada di lingkaran Istana itu merupakan mantan Panglima TNI yang ditunjuk SBY saat menjabat Presiden ke-6 RI.

Moeldoko pun membantah tudingan tersebut dan menyatakan bahwa upaya kudeta seharusnya dilakukan oleh kader Demokrat.

"Tidak ada rencana kudeta. Kudeta itu kan dari dalam bukan dari luar. Isu ini juga muncul karena ada foto yang tersebar," ujarnya melalui keterangan tertulis, Senin 1 Februari 2021.

Ia pun menegaskan, bahwa isu tersebut murni tentang dirinya dan tidak ada kaitannya dengan Istana maupun Presiden Joko Widodo.

"Jangan sedikit-sedikit Istana. Jangan ganggu pak Jokowi dalam isu ini. Beliau tidak tahu sama sekali tentang isu ini, itu urusan saya, itu murni Moeldoko," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini