Nyai Dasima, Gadis Dusun Kuripan Bogor Membuat Tuan Edward Bertekuk Lutut

Doddy Handoko , Okezone · Selasa 02 Februari 2021 05:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 02 337 2354799 nyai-dasima-gadis-dusun-kuripan-bogor-membuat-tuan-edward-bertekuk-lutut-LY7xMahtGr.jpg Foto: Istimewa

PADA tahun 1896 G. Francis menerbitkan novel yang diberi judul Tjerita Njai Dasima. Lie Kim Hok dan O.S Tjiang pernah menyadur cerita Nyai Dasima ini dalam bentuk syair.

Menurut Claudine Salmon, kedua penulis itu menyadur dari karya G. Francis. A. Th. Mausamana membuat Nyai Dasima dalam bahasa Belanda pada tahun 1926.

Cerita ini muncul sebagai bacaan anak – anak dalam Cerita Betawi (Ali, 1995). Tahun 165 S.M. Ardan pernah mengarang Njai Dasima dalam bentuk naskah drama.

Berikut cuplikan kisah Nyai Dasima, cerita ini diambil dari sebuah buku karangan G. Francis (Gijsbert Francis)yang terbit pada tahun 1896, ditulis berdasarkan kisah nyata kehidupan seorang istri simpanan yang bernama Dasima, gadis dusun Kuripan, Bogor.

Tjurug, Tanggerang 1813 Njai Dasima, seorang warga Kuripan, Jawa Barat menjadi gundik tuan tanah bernama Edward W yang berkebangsaan Inggris. Toean Edward terpikat padanya karena ia cantik, pandai menjahit dan memasak. Dari hubungan mereka lahirlah seorang bayi perempuan yang diberi nama, Nanci.

Meski telah punya anak Dasima tetap cantik seperti masa perawannya. ltulah yang mendorong tuan Edward laki-Iaki asal Inggris tak segan-segan memberikan sebuah rumah serta para pembantu yang siap melayani keperluan Dasima. Semula Dasima dan tuan Edward menetap di Curug Tangerang, kemudian pindah ke Pejambon Batavia.

Bagi lelaki perjaka dan duda, ada keinginan untuk memperisterikan Nyai Dasima. Mereka berharap bisa melihat meskipun sehelai rambut lewat jendela.

Kecantikan Dasima dalam.buku itu digambarkan sebagai berikut;

"Setiap lelaki dewasa yang lewat di depan rumahnya, manakala melihat Nyai Dasima, maka menitiklah air liur mereka. Bagi mereka yang telah beristeri, tumbuh sesaat penyesalan mengapa tidak beristerikan wanita itu saja, pastilah hidup bahagia, cahaya kecantikan yang terpancar dari bola matanya, bersih kencang kulitnya dan liuk lekuk tubuhnya yang bagai gitar.”

Kisah Njai Dasima meninggalkan jejak bangunan bersejarah yang dibangun pada abad ke – 19. Rumah Nyai Dasima bersama Toean W berada di Pejambon, tepatnya di belakang Gereja Immanuel, dekat Stasiun Gambir.

“Kabarnya Dasima dibunuh dekat jembatan Kwitang , kini depan toko buku Gunung Agung, di sekitar sungai itu mayatnya ditemukan,”kata Yahya Andi Syahputra, budayawan Betawi, saat ditemui di Terogong, Jaksel, beberapa waktu lalu.

Gedung Pancasila (Gedung Departemen Luar Negri) awalnya hanyalah sebuah hutan belukar dengan rawa – rawa. Tahun 1648 mulai berubah setelah tempat itu didiami penduduk. Keluarga Anthony Chestelyn menguasai kawasan itu untuk pertanian tebu dan padi guna keperluan VOC.

Gedung itu sendiri diperkirakan berdiri dan mengalami renovasi dalam kurun waktu 1890 s/d 1950. (kha)

(fmh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini