Bukan Hanya Demokrat, Penggembosan Parpol Oposisi Sudah Terjadi Sejak Dulu

Felldy Utama, iNews · Selasa 02 Februari 2021 05:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 02 337 2354795 bukan-hanya-demokrat-penggembosan-parpol-oposisi-sudah-terjadi-sejak-dulu-9uuyWDf0wx.jpg Susilo Bambang Yudhoyono (Foto: Okezone)

JAKARTA - Upaya pengambil-alihan kepemimpinan Partai Demokrat bukan kali pertama terjadi. Hampir sebagian partai politik yang ada juga pernah mengalami hal yang sama, sayangnya partai Demokrat masih dibentengi dengan sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"AHY berupaya selamat dari kudeta tersebut karena masih ada SBY sebagai mentornya," kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Reasearch and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Senin (1/2/2021).

Menurut dia, banyak partai oposisi yang kurang piawai menghadapi fenomena seperti ini, digembosi dari dalam dengan memperkuat faksi dan Munaslub. Elite lingkaran Penguasa sudah berhasil pola pola semacam ini dari dulunya seperti fenomena mengambil PPP, mengambil alih PAN, mengambil alih Golkar dengan munaslub tandingan, tidak bisa lepas dari desain yang sedang berkuasa, agar mampu menjinakkan oposisi, maka upaya untuk mengatasi tersebut adalah dengan ada kepengurusan tandingan yang nanti munaslub, lalu disahkan kemenkumham.

"Salah satu partai oposisi lain yang pernah menjadi korban adalah Partai berkarya melalui operasi khusus. Kemudian Tommy tidak lagi menguasai berkarya," ujarnya.

Fenomena semacam ini tidak hanya sekarang, kata dia, di era orde baru juga terjadi bagaimana mengembosi kekuatan oposisi dengan mengambil alih paksa partai tersebut. Dia mencontohkan, ketika ada kubu Soeryadi dan kubu Megawati, sampai memakan korban karena adanya dua faksi di internal yang dibenturkan penguasa rezim orde baru.

Baca Juga: Pesan Demokrat ke Moeldoko : Sebaiknya Lencana Istana Dicopot Dulu dari Dada

Dengan mengumumkan melalui konfrensi pers, ia memandang bahwa langkah AHY sebetulnya bagus. Putera sulung SBY itu berhasil dan menggagalkan kudeta tersebut, bentuk perlawanan, dan berhasil atau selamat dari kudeta.

"Banyak partai oposisi yang gagal mengendus operasi khusus mengambil alih partai melalui aktor internal yang pernah diberhentikan, yang merasa di zolimi, aktor ini yang seringkali di manfaatkan," tutur dia.

Akan tetapi, katanya, partai Demokrat harus mempunyai bukti yang cukup kuat, kalau tidak maka bisa terjadi serangan balik, dan demokrat bisa dituduh mengarang, atau pencemaran nama baik/fitnah.

"Apalagi demokrat sudah langsung sebut nama, tentu bukan tuduhan yang main main, sudah cukup bukti yang kuat, maka sah sah saja partai demokrat melakukan pembelaan dan mengumumkan ke publik bahwa partai mereka selamat dari upaya atau kudeta," pungkasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini