Cerita Mualaf Asal Argentina Pedagang Kebab Keliling Temukan Jodoh Seorang Dokter

MNC Media, · Senin 01 Februari 2021 16:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 01 337 2354584 cerita-mualaf-asal-argentina-pedagang-kebab-keliling-temukan-jodoh-seorang-dokter-rhDBd5x8v4.jpg Foto: MNC Media

KOTAWARINGIN BARAT – Umar bin Abdullah, bule asal Argentina yang berjualan kebab dan nasi kebuli di pinggir Jalan Antasari, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng) viral di media sosial.

(Baca juga: Beristrikan Dokter, Bule Mualaf Asal Argentina Ini Berjualan Kebab di Pinggir Jalan)

Pria 24 ini menjadi mualaf sejak 2013 saat dia di Argentina. Ia pun penceritakan pertama kali ke Indonesia pada 2017. Berawal untuk memperdalam agama Islam setelah dia menjadi mualaf. Sebab di Argentina warga yang beragama Islam sangat sedikit. Makanya ia memilih Indonesia untuk memperdalam agama Islam karena penduduknya mayoritas muslim.

(Baca juga: Menteri Jokowi Mau Rebut Demokrat, AHY: Kami Akan Tegas!)

“Saya seorang mualaf sejak 2013 saat masih di Argentina. Saya dulu seorang Katolik. Awal masuk Indonesia sekitar tahun 2017 untuk belajar agama Islam di Yogyakarta. Sebelumnya pernah ke Selandia Baru, Australia dan saya melihat Indonesia mayoritas beragama muslim. 2018 baru masuk Kalimantan,”bebernya.

Umar pun menceritakan pertemuannya dengan istrinya yang merupakan seorang dokter umum di sebuah rumah sakit swasta di Pangkalan Bun.

Selama di Pangkalan Bun Kalteng Umar banyak berkenalan dengan para ustadz dan ulama. Dan dari situlah kenal dengan mertua.

“Pada 2018 bulan Febuari tiba di Pangkalan Bun, saya menikah Agustus 2018, istri saya asli Pangkalan Bun namanya Aulia (28), saya sudah diberi 1 anak perempuan bernama Maryam. Sampai sekarang saya masih warga negara Argentina. Tapi jika nanti semua syarat selesai saya pasti akan menjadi WNI,” pungkasnya.

Saat ini, Umar tinggal di RT 24, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Arut Selatan bersama istri dan satu anaknya.

“Sudah sejak Juli 2020 saya berjualan kebab dan nasi kebuli di pinggir jalan dengan motor. Awalnya dulu saya mangkal di depan masjid Sirajul Huhtadin dekat pasar. Baru satu bulan mangkal di sini (Jalan Antasari depan lapangan istana kuning),” ujar Umar yang sudah mulai fasih berbahasa Indonesia kepada MNC Media, Senin (1/2/2021).

Umar mengaku mempunyai ide berjualan kebab pinggir jalan setelah melihat penjual kebab di Pangkalan Bun belum banyak dan harganya juga mahal. Untuk itu ia mencoba berjualan kebab dan nasi kebuli dengan harga murah.

“Harga kebab mini Rp5 ribu yang besar Rp10 ribu, nasi kebuli per bungkus Rp10 ribu. Semua bahannya ini saya buat sendiri,” sambung Umar.

Ia tidak malu berjualan kebab di pinggir jalan menggunakan motor meski istrinya seorang dokter. Bahkan ia mengaku mertua dan istri mendukung atas usaha kulinernya ini.

“Ngapain malu, gengsi. Daripada maling atau mencuri. Mertua saya dan istri mendukung. Yang penting halal dan barokah. Cita cita saya nanti jika usaha saya laris akan menbuat food truck. Semoga saja kesampaian.. bismilllah,” ungkapnya.

Umar berjualan setiap hari mulai pukul 06.00 WIB sampai sore hari dan mangkal di depan lapangan tugu Istana Kuning. “Sehari paling sepi 20 kebab terjual, kalau rame bisa 30 kebab. Nasi kebuli sekitar 20-25 bungkus,” ujar ayah Maryam yang berumur 1 tahun.

Di sela sela berjualan, Umar juga selalu meluangkan waktu untuk mengaji dan tak lupa menjalankan sholat lima waktu. “Ya pas tidak ada pembeli saya luangkan waktu untuk mengaji, kalau ada suara adzan langsung sholat di masjid. Ini bekal saya nanti di akhirat,”tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini