Epidemiolog Sebut PPKM Tak Efektif Atasi Covid-19, Harusnya Lockdown!

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Kamis 28 Januari 2021 06:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 28 337 2352079 epidemiolog-sebut-ppkm-tak-efektif-atasi-covid-19-harusnya-lockdown-XIXjNRxW8M.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menilai, kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali jilid II tidak akan efektif mengatasi Covid-19.

Menurut dia, seharusnya pemerintah mengambil langkah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan ketat atau lockdown guna memutus mata rantai penyebaran virus corona. 

"Upaya pengendalian kita tidak sepadan dengan besar masalahnya. Saat ini PPKM itu juga harusnya di awal-awal dulu. Jadi bukan sekarang. Kalau sekarang ya PSBB, ya lockdown dengan 3T dan 5M yang optimal dan merata di setiap daerah," kata Dicky saat dihubungi, Kamis (28/1/2021).

Dicky menyebut, PPKM merupakan kebijakan penanggulangan pandemi Covid-19 yang dilakukan secara setengah-setengah, sehingga tidak efektif dan memperlama persoalannya.

"Pesan penting 2020 itu. Respons kita seperti ini ya permasalahan yang kita selesaikan jadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Jadi tidak aneh kalau kita masih terus dalam gelombang pertama dan belum di puncak dan terburuk," ucapnya.

Dia memperkirakan sudah ada 1% jumlah penduduk Indonesia yang terpapar Covid-19 dengan rincian satu juta kasus teridentifikasi dan dua juta lainnya tidak terdeteksi.

Baca juga: Memalukan, Anggota Satgas Covid-19 Terjaring Razia Masker

Dicky juga mengkritik penerapkan testing, tracing, dan treatment (3T) yang tidak optimal. Dia mengatakan, angka positivity rate yang di atas 10% merupakan bukti masih rendahnya penerapan 3T.

"Banyak sekali kasus yang tidak terdeteksi. Itu terlihat dari positivity rate kita tidak pernah di bawah 10 persen. Ini menunjukkan dua hal. Pertama laju penyebaran tinggi akibat 5M tidak memadai, dan 3T tidak memadai. Terutama cakupan testing tidak memadai ini, ya merambah kemana-kemana," ujar dia. 

Dicky mengatakan, ancaman jenis baru virus corona juga patut diwaspadai karena 30% lebih menular dan mematikan. "Ini akan masuk, ini perkara waktu saja. Artinya kita mau evaluasi dan tindakan tegas tanpa ragu-ragu segera, untuk merubah strateginya," kata Dicky.

Menurut Dicky, idealnya angka testing Covid-19 per hari yang dilakukan pemerintah sebanyak 200 ribu tes. Dia menerangkan, 10 ribu kasus harian itu harus diantisipasi dengan adanya potensi 30 kasus kontak erat pada hari dinyatakan terpapar Covid-19 dan sehari sebelumnya.

"Setidaknya 200 ribu dilakukan, jadi 200-300 ribu tes harian sangat wajar. Ini harus kita lakukan dengan menerapkan 5M dan 3T dan pakai PSBB dengan tegas misalnya 3 bulan," lanjut dia.

"Setelah itu kita fokus untuk persoalan dampak ekonomi sosialnya. Kalau ini setengah-setengah, nggak akan pernah selesai. Nggak ada itu dalam literatur ilimiah dan sejarah pandemi yang bisa menjadi rujukan. Tidak ada yang pernah sukses storinya," pungkasnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini