Siswi Diperkosa saat Cari Sinyal, Jadi Tamparan Lemahnya Pemerataan Internet

Tim Okezone, Okezone · Senin 25 Januari 2021 11:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 25 337 2350236 siswi-diperkosa-saat-cari-sinyal-jadi-tamparan-lemahnya-pemerataan-internet-K3DSJ7AWXJ.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Siswi berusia 15 tahun diperkosa saat mencari sinyal di hutan untuk sekolah daring. kejadian tersebut terjadi di Indragiri Hulu, Riau.

Hal itu membuat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berharap pandemi Covid-19 yang melanda dunia menjadi momentum untuk menurunkan kesenjangan digital di Indonesia.

Harapan ini disampaikan juru bicara DPP PSI, Sigit Widodo, Senin (25/1/2021) menanggapi kasus pemerkosaan seorang siswi saat belajar daring di hutan untuk mencari sinyal.

“Saya sangat sedih membaca berita itu, seorang anak yang sangat bersemangat belajar untuk masa depan justru mengalami pemerkosaan. Ini harus jadi perhatian semua pihak,“ ujarnya.

Sigit mengatakan, tragedi ini mengungkapkan kembali buruknya kualitas jaringan internet di beberapa wilayah. “Secara umum memang terjadi perbaikan kualitas jaringan internet di Indonesia selama beberapa tahun terakhir, namun di wilayah perdesaan masih banyak masyarakat yang sulit mendapatkan akses,” ungkapnya.

Mengutip hasil survei terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Sigit mengingatkan, 97 persen dari hampir 200 juta pengguna internet di Indonesia menggunakan telepon seluler untuk mengakses internet.

“Ini wajar saja mengingat Indonesia terdiri dari belasan ribu pulau yang tersebar di wilayah yang sangat luas,” ujarnya. “Namun ini juga jadi pekerjaan rumah bagi pemerintah bersama operator seluler untuk terus memperbaiki kualitas jaringan, terutama di wilayah perdesaan yang tidak terjangkau jaringan internet kabel,” tambah Sigit lagi.

Melihat banyak peserta didik yang harus pergi ke atas bukit, naik pohon, atau ke hutan sepi untuk mencari sinyal, PSI berharap dinas-dinas pendidikan di daerah juga turun ke lapangan untuk mencari solusi terbaik.

“Pola belajar daring di wilayah susah sinyal, tentu tidak bisa disamakan dengan daerah yang memiliki akses internet yang memadai. Pembuat kebijakan harus turun ke lapangan untuk menyelesaikan masalah-masalah ini. Siswa harus dapat belajar dengan baik dan aman. Pergi ke hutan untuk belajar daring jelas bukan proses belajar yang sehat dan aman,” tegas Sigit.

Salah satu solusi yang juga bisa dilakukan, masih menurut Sigit, adalah membangun titik-titik wifi gratis di desa-desa dan perkampungan yang bisa digunakan oleh siswa untuk belajar daring tidak jauh dari rumahnya.

“Orangtua dan masyarakat bisa mengawasi anak-anak saat belajar online sehingga kejadian yang sangat menyedihkan kemarin tidak terulang Kembali,” pungkas Sigit.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini