Anggota TNI Kembali Gugur, Pemerintah Diminta Serius Tangani KKB Papua

Senin 25 Januari 2021 11:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 25 337 2350228 anggota-tni-kembali-gugur-pemerintah-diminta-serius-tangani-kkb-papua-N73ZRBw2Q5.jpg Ilustrasi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua/Foto; Antara

JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI Sukamta meminta pemerintah serius menangani gangguan keamanan dan ketertiban (kamtibmas) di Papua yang dilakukan kelompok kriminal bersenjata (KKB). Tujuannya, agar tidak ada lagi warga sipil dan anggota TNI-Polri yang menjadi korban.

Dia mengatakan, korban berjatuhan dari pihak TNI masih saja terjadi. Pada November 2020, satu personel TNI gugur.

"Kemudian masih di bulan ini (Januari 2021) ada sat lagi yang gugur. Ini menunjukkan intensitas gangguan kamtibmas yang masih tinggi di Papua. Semestinya ada upaya serius mengatasi hal ini supaya tidak ada lagi korban aparat TNI-Polri dan juga warga sipil," kata Sukamta seperti dilansir Antara di Jakarta, Senin (25/1/2021).

Pernyataan disampaikan terkait dua prajurit TNI dari Yonif R 400/BR yaitu Pratu Roy Vebrianto dan Pratu Dedi Hamdani dikabarkan tewas dalam baku tembak dengan KKB di Kabupaten Intan Jaya, Papua, Jumat 22 Januari 2021.

Dia menyoroti pendekatan pemerintah dalam mengatasi KKB yang dianggap terlalu lunak. Akibatnya, kelompok separatis bisa leluasa bergerak melakukan serangan kepada aparat keamanan dan warga sipil.

Baca juga: Kelompok Bersenjata Pembakar Pesawat di Intan Jaya Masih Misterius

Menurut dia, selama ini penanganan KKB terkesan setengah hati, apabila dibandingkan dengan Operasi Tinombala di Poso yang berhasil menumpas kelompok Santoso, dalam operasi tersebut pemerintah kerahkan satuan tempur yang punya reputasi andal seperti Brimob, Kostrad, Marinir, Raider, dan Kopassus secara bersamaan.

"Hal ini yang tidak terlihat dalam upaya tangani kelompok separatis di Papua. Dugaan saya pemerintah ragu-ragu dengan langkah lebih keras karena khawatir sorotan dunia internasional yang memandang masih adanya kasus-kasus pelanggaran HAM di Papua," ujarnya.

Karena itu Sukamta menyarankan pemerintah melakukan langkah penyelesaian masalah di Papua secara komprehensif dengan membentuk kementerian atau badan khusus soal Papua.

Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI itu menilai kenaikan dana Otonomi Khusus sebesar 0,25 persen tidak akan berarti apa-apa jika pemerintah tidak melakukan evaluasi secara total terhadap pelaksanaan otsus dan berbagai langkah yang selama ini dilakukan.

"Alih-alih bisa selesaikan masalah, kenaikan anggaran bisa memperbesar peluang korupsi berjamaah. Pemerintah harus masuk pada akar masalah dan menyelesaikannya secara tuntas dan itu bisa dimulai dengan menata kelembagaan secara khusus untuk penanganan Papua," tutur-nya.

(fmh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini