Semakin Meningkat, BMKG Catat 59 Kali Gempa di Awal 2021

Kiswondari, Sindonews · Sabtu 23 Januari 2021 22:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 23 337 2349674 semakin-meningkat-bmkg-catat-59-kali-gempa-di-awal-2021-yKwRVe2abC.jpg ilustrasi: Ist

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisila (BMKG) melakukan monitoring terhadap aktivitas kegempaan di seluruh wilayah Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sejak awal Januari 2021 sedang mengalami peningkatan aktivitas gempa dirasakan.

"Selama periode 1 hingga 22 Januari 2021 saja, BMKG mencatat gempa dirasakan sebanyak 59 kali, jumlah ini tergolong tinggi, dan hampir setiap hari terjadi gempa dirasakan. Bahkan pada 14 Januari 2021 lalu dalam sehari terjadi gempa dirasakan sebanyak 8 kali," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers secara daring yang disiarkan di akun Youtube BKMG, Sabtu (23/1/2021).

(Baca juga: Tangis Kolonel Ahmad Pecah saat Iringi Pemakaman Istri dan anak Korban Sriwijaya Air)

"Jika kita ingin mewaspadai titik-titik rawan bencana gempa dapat didasarkan pada kawasan yang diduga menjadi seismic gap, yaitu zona gempa potensial tetapi sudah sangat lama tidak terjadi gempa yang patut diwaspadai," sambungnya.

Dwikorita memaparkan, untuk kawasan seismic gap di zona sumber gempa megathrust yaitu Kepulauan Mentawai Sumbar, Selat Sunda, Selatan Bali, Sulawesi Utara, Laut Maluku, Utara Papua, dan Laut Banda.

(Baca juga: Syekh Ali Jaber Belum Bisa Bayar Kontrakan, Keluarga: Alhamdulillah Ada yang Membantu)

Sementara, untuk wilayah seismic gap di zona sumber gempa Sesar Aktif adalah Sesar Lembang (Jabar) dan Sesar Matano (Sulteng), Sesar Sorong (Papua Barat) dan Sesar Segmen Aceh. Namun demikian sebaiknya selalu patut waspada untuk setiap sumber gempa yang ada karena gempa dapat terjadi kapan saja dan dapat terjadi tidak hanya di zona seismic gap saja.

"Berdasarkan beberapa hal tersebut di atas BMKG merekomendasikan agar masyarakat mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan dengan kekuatan signifikan seperti lazimnya pasca terjadi gempa kuat," imbaunya.

Berdasarkan data gempa susulan dan analisis energi peluruhan, Deputi bidang Geofisika BMKG Muhammad Sadly mengatakan, diperkirakan kejadian gempa susulan akan berlangsung kurang lebih 3-4 minggu sejak kejadian gempa yang pertama.

"BMKG akan tetap memonitor dan mengupdate perkembangan gempabumi tersebut. Masyarakat yang tempat tinggalnya sudah rusak atau rusak sebagian, dihimbau untuk tidak menempati lagi karena jika terjadi gempa susulan signifikan dapat mengalami kerusakan yang lebih berat bahkan dapat roboh," tambah Sadly.

Dia meminta agar masyarakat perlu waspada dengan kawasan perbukitan dengan tebing curam karena gempa susulan signifikan dapat memicu longsoran dan runtuhan batu.

Apalagi saat ini musim hujan yang dapat memudahkan terjadinya proses longsoran karena kondisi tanah lereng perbukitan basah dan labil, Mengingat pesisir Majene pernah terjadi tsunami pada tahun 1969, masyarakat yang bermukim di wilayah Pesisir Majene perlu waspada jika merasakan gempa kuat agar segera menjauh dari pantai tanpa menunggu peringatan dini tsunami dari BMKG.

"Masyarakat juga diminta tidak percaya berita bohong (hoax) untuk meninggalkan Mamuju atau kembali ke rumah masing-masing. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang tetapi waspada, serta mengikuti informasi yang bersumber dari lembaga resmi sepeti BMKG dan arahan dari BNBP/BPBD," pintanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini