Ketua Satgas Covid-19 Positif Meski Terapkan Prokes, Epidemiolog: Pasti Ada Celah Tak Disadari

Kiswondari, Sindonews · Sabtu 23 Januari 2021 12:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 23 337 2349532 ketua-satgas-covid-19-positif-meski-terapkan-prokes-epidemolog-pasti-ada-celah-tak-disadari-xKA5gCzMAA.jpg Kepala BNPB, Doni Monardo. (Foto: Antara)

JAKARTA - Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo mengumumkan bahwa dirinya terkonfirmasi positif Covid-19, Sabtu (23/1/2021) pagi ini. Padahal, Doni mengaku telah menerapkan protokol kesehatan (prokes) Covid-19 secara ketat.

Terkait penyebab tertularnya Doni, Ahli Epidemologi Universitas Indoensia (UI), Pandu Riono mempertanyakan, apakah Doni telah konsisten menerapkan prokes Covid-19. Menurutnya, pasti ada celah yang tidak disadari.

"Yakin, Dia (Doni) konsisten? Pasti ada celah yang tidak disadari tertular. Pencegahan itu harus berlapis-lapis, saya jelaskan konsep keju berlapis. Kalau tidak masih ada peluang tertular, apalagi virusnya sekarang mudah menular dan banyak orang yang sudah tertular," kata Pandu saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Sabtu (23/1/2021).

Pandu menjelaskan konsep pertahanan ala Keju Swiss yang dibuatnya. Ada 10 lapis pertahanan dari pandemi Covid-19, yakni jaga jarak dan tetap di rumah jika sakit; memakai masker; mencuci tangan, etika batuk dan bersin; menghindari kerumunan; tes dan pelacakan yang tepat dan akurat; ventilasi ruang terbuka dan filter udara; imbauan pemerintah dan dukungan finansial; karantina dan isolasi; dan vaksin.

Baca juga: Doni Monardo Duga Dirinya Terpapar Covid-19 saat Makan Bersama

"Saya bikin dalam bentuk tikar berlapis atau pembatas, bahwa penularan virus yang dilakukan lewat udara ini enggak mudah mengatasinya. Selama orang itu bernapas, berbicara, orang itu bertemu orang lain, dia tetap berisiko tertular. Apalagi jenderal, banyak marah-marah biasanya, semakin banyak bicara semakin berisiko," papar Pandu.

Menurut dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI itu, pertahanan berlapis ini merupakan tanggung jawab individu dan tanggung jawab bersama. Karena setiap intervensi atau lapisannya memiliki kekurangan atau lubang, maka banyaknya lapisan bisa meningkatkan kesuksesan.

"Iya (semua lapisan perlu dilakukan), kalau itu dijalankan betul risikonya sangat rendah, hampir nol. Yang terakhir itu vaksin, vaksin itu salah satu dari pelengkap," tegasnya.

Oleh karena itu, Pandu menyayangkan pemerintah menganggap vaksin satu-satunyacara. Itulah kenapa orang setelah vaksinasi harus tetap mematuhi prokes, mengenakan masker, menjaga jarak dan lainnya. Karena vaksin tidak mencegah orang tersebut terinfeksi.

"Makanya orang habis divaksin, harus tetap memakai masker, menjaga jarak. Siapa bilang vaksin bisa mencegah infeksi? Makannya banyak orang bilang kepala dinas, bupati, kena. Walaupun ngaku baru divaksinasi, kena," tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini