Kemenkes Duga Bupati Sleman saat Divaksin dalam Masa Inkubasi

Binti Mufarida, Sindonews · Jum'at 22 Januari 2021 16:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 22 337 2349142 kemenkes-duga-bupati-sleman-saat-divaksin-dalam-masa-inkubasi-p0Q0GwLf63.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmidzi menegaskan jika melihat sequence waktunya, sangat mungkin pada saat Bupati Sleman Sri Purnomo divaksin, ia sudah dalam masa inkubasi. 

Artinya, sudah terpapar virus tapi belum bergejala. Meski demikian, kejadian ini tetap dilaporkan sebagai KIPI.

“Secara alamiah, waktu antara paparan dan munculnya gejala/load virus sedang tinggi adalah sekitar 5-6 hari (waktu yang pas, karena di vaksin tanggal 14 Januari sementara hasil swab PCR positif tanggal 20 Januari),” kata dalam keterangannya, Jumat (22/1/2021).

Ia pun memastikan vaksin Covid-19 dari Sinovac bukan penyebab Bupati Sleman Sri Purnomo dinyatakan positif Covid-19.

Diketahui, Sri Purnomo positif Covid-19 beberapa hari usai disuntik vaksin dari Sinovac. Di mana, penyuntikan vaksin Covid-19 dilakukan pada 14 Januari lalu dan dinyatakan positif pada Rabu, 20 Januari.

“Bahwa vaksin Covid-19 yang diberikan pada Bupati Sleman, berjenis inactivated, sehingga vaksin bukan penyebab bisa positif,” tegas Nadia. 

Baca Juga: Positif Covid-19, Bupati Sleman Yakin Bukan Tertular dari Vaksin 

Bupati Sleman

Ditambahkan Nadia, dari awal juga sudah ditekankan bahwa vaksinasi Covid-19 memang membutuhkan dua kali dosis penyuntikan. “Sebab, sistem imun perlu waktu lewat paparan yang lebih lama untuk mengetahui bagaimana cara efektif melawan virus,” katanya.

“Suntikan pertama dilakukan untuk memicu respons kekebalan awal. Dilanjutkan suntikan kedua untuk menguatkan respons imun yang telah terbentuk. Hal ini memicu respons antibodi yang lebih cepat dan lebih efektif di masa mendatang,” kata Nadia.

Baca Juga:  Positif Covid-19 Usai Divaksin Sinovac, Bupati Sleman Sri Purnomo Demam dan Tangannya Kaku

Menurut Nadia, jika sejumlah vaksin seperti cacar air, hepatitis A, herpes zoster (cacar ular) juga memerlukan dua dosis vaksin untuk mencegah penyakit tersebut. Beberapa vaksin bahkan membutuhkan dosis lebih banyak seperti vaksin DTaP untuk difteri, tetanus, dan pertusis. Sehingga, proses pemberian vaksinasi tetap dilakukan seperti yang sudah ditargetkan.

Nadia berpesan, dengan adanya vaksinasi, masyarakat juga masih punya kewajiban menjalankan protokol kesehatan. “Karena selain tetap harus menjaga diri sendiri juga masih dibutuhkan waktu untuk bersama sama bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk mencapai kekebalan kelompok,” tegasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini