Dokter Alumnus UNS Soroti Tren Kasus Covid-19 Derajat Sedang hingga Kritis

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 22 Januari 2021 16:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 22 337 2349131 dokter-alumnus-uns-soroti-tren-kasus-covid-19-derajat-sedang-hingga-kritis-HbyDh5oe9k.jpg Foto: Humas UNS

JAKARTA – Alumnus Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) 1988, dr. Pompini Agustina menyoroti tren peningkatan kasus Covid-19 derajat sedang, berat, dan kritis yang perlu dikaji. Menurut pengalaman dr. Pompini, hal ini terjadi salah satunya karena keterlambatan penanganan dan keterlambatan pasien mengenali gejala penyakit.

Di sisi lain, pasien sudah mengenali gejala tapi kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan karena sistem rujukan yang bermasalah.

“Contoh, mendaftarkan diri ke berbagai rumah sakit untuk mendapat rujukan. Jadi tercatat di beberapa rumah sakit. Akibatnya antrean rumah sakit semakin banyak,” ujar dr. Pompini yang bertugas di RSPI Prof. Dr. Soelianti Sarosa Jakarta, Rabu 20 Januari 2021 dalam diskusi Wedangan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNS Surakarta, melalui siaran pers yang diterima Okezone, Jumat (22/1/2021).

Baca Juga:  Kasus Covid-19 Bertambah 13.632, Berikut Sebaran Kasus di 10 Provinsi 

Menyikapi hal tersebut, dr. Pompini menyebutkan tahapan case management yang diterapkan yaitu deteksi dini, penentuan derajat penyakit, lalu penanganan sesuai derajat. Satu hal utama yang ditekankan olehnya adalah deteksi secara dini agar dapat segera dilakukan penentuan derajat penyakit berikut penanganannya.

“Sebab, ketika lemah dalam melakukan deteksi dini, maka lemah pula dalam menentukan derajat penyakit. Akibatnya banyak kasus yang datang terlambat dan sudah mencapai derajat penyakit berat saat sampai di layanan kesehatan,” imbuh dr. Pompini.

Berbicara perihal derajat penyakit, dr. Pompini menyampaikan, kasus Covid-19 derajat ringan dengan penyakit penyerta harus hati-hati untuk dievaluasi. Meski derajat penyakit ringan tapi penyakit penyerta tidak terkontrol (seperti diabetes mellitus, jantung, hipertensi, paru kronis), maka dapat meningkat menjadi penyakit berat.

Dr. Pompini menambahkan, untuk derajat sedang harus ada monitoring cepat dan mendapat layanan di fasilitas kesehatan primer. Ia pun sangat berharap masyarakat peduli dengan kondisi sedang ini dan jangan sekali-kali menunggu.

Minimal saat ada batuk dan demam segera periksakan. Sehingga dapat dievaluasi, apakah memerlukan rawat inap, bantuan oksigen, obat antivirus, atau pengobatan yang sifatnya suportif.

Baca Juga:  Update Corona 22 Januari 2021: Positif 965.283 Orang, 781.147 Sembuh dan 27.453 Meninggal 

Begitu juga dengan kasus berat yang tidak menutup kemungkinan masuk kondisi kritis. Pada derajat ini, dr. Pompini menekankan jangan sampai terlambat dalam tata laksana terapi oksigen agar tidak sampai kritis.

“Di sisi lain, kondisi berat kritis harus masuk ke bantuan nafas mekanik. Di mana pasien tersebut kemungkinan mendapatkan infeksi tambahan, seperti di kandung kemih karena tambahan alat bantu. Hal inilah yang membuat penanganan di ICU menjadi berat. Maka (red: pada kondisi ini) kita tidak hanya berpikir tentang Covid-19 saja,” jelasnya.

Sementara itu, dr. Arifin dari RSUD Dr. Moewardi Surakarta menyampaikan pengalaman di Intensive Care Unit (ICU). Jumlah pasien yang terus meningkat, namun ketersediaan tempat yang tidak sepadan membuat pasien derajat berat dan kritis tidak selalu dapat dirawat di ICU.

“Pasien derajat berat dan kritis bisa dirawat di ICU jika cukup, ketika tidak maka terpaksa dirawat di ruang perawatan biasa seperti IGD,” terang Alumnus FK UNS 1992 ini.

Vaksinasi

Hadir pula Wakil Direktur Rumah Sakit UNS, dr. Tonang Dwi Ardyanto yang berbicara tentang vaksin Covid-19. Pada kesempatan ini, dr. Tonang menyinggung banyaknya kandidat vaksin yang sedang uji klinik diberikan lewat suntikan sebagaimana pilihan Indonesia. Sangat sedikit penelitian vaksin Covid-19 yang diberikan lewat hidung.

Hal ini, tambah dr. Tonang, tidak terlepas dari potensi dua antibodi yang terbentuk saat terinfeksi yakni Immunogoblin A (IgA) di saluran nafas atas dan Immunogoblin G (IgG) di saluran nafas bawah. Media suntikan dipilih karena akan memicu kuat IgG yang memiliki umur relatif panjang dibandingkan IgA.

Selain itu, orang yang sudah pernah Covid-19, ketika IgG-nya kuat, maka virus tidak bisa masuk lagi ke saluran nafas bawah dan paru-paru karena masih ada IgG.

“Kalau vaksin diberikan lewat hidung, IgA terpicu kuat, tapi IgG kurang terpicu. Padahal IgA cepat untuk habis. Orang pernah kena Covid-19 kemudian IgA turun, maka virus bisa masuk lagi di saluran nafas atas,” ungkap Alumnus FK UNS 1993 ini.

Adapun perihal pembuatan Vaksin Merah Putih, dr. Tonang menuturkan bahwa UNS mengambil peran untuk penyusunan peta jalan atau road map. Dengan kata lain, UNS mengkoordinasikan perkembangan dari rekan-rekan universitas dan lembaga lain yang tergabung dalam proses ini.

“Saat ini, kita memang belum bisa mengandalkan Vaksin Merah Putih. Tapi harapannya langkah ini tidak hanya untuk Covid-19, tapi juga menjadi cikal bakal vaksin lainnya dan mendorong kemandirian serta kedaulatan vaksin Indonesia,” tutur dr. Tonang.

Wedangan IKA UNS Surakarta yang mengupas penanganan Covid-19 dari kacamata dan pengalaman para alumnus merupakan diskusi seri ke-41. Edukasi perihal vaksinasi turut diberikan dalam wedangan yang diikuti hampir 200 peserta di Zoom Cloud Meetings dan disiarkan melalui kanal YouTube UNS ini.

Di moderatori Renni Yuniati, wedangan kali ini juga menghadirkan dr. Sri Pratomo, selaku Ketua Keluarga Alumni FK UNS. Tidak ketinggalan, Prof. Ahmad Yunus selaku Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNS turut memberikan sambutan baik terhadap acara ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini