Kasus Covid-19 Melonjak, IDI: Penerapan Prokes di Daerah Masih Kelihatan Berat

Binti Mufarida, Sindonews · Jum'at 22 Januari 2021 15:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 22 337 2349099 kasus-covid-19-melonjak-idi-penerapan-prokes-di-daerah-masih-kelihatan-berat-MKAvSIXuSk.jpg Ketua PB IDI Daeng M Faqih (Foto: BNPB)

JAKARTA - Ketua PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M Faqih mengatakan penerapan protokol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun) masih belum terlalu berdampak menekan angka kasus Covid-19.

“Di beberapa daerah memang protokol kesehatan ini masih kelihatan berat. Bahkan, tidak kelihatan impact-nya bisa menurunkan angka kejadian,” ungkap Daeng dalam diskusi “Vaksinasi Vaksinasi Covid-19, Perubahan Perilaku dan Diseminasi Informasi. Keterbukaan, Akuntabilitas dan Keadilan Dalam Distribusi Vaksin Covid-19” secara virtual, Jumat (22/1/2021).

Baca Juga:  Bupati Bandung Barat Sembuh dari Covid-19, Istri dan Anaknya Masih Positif

Apalagi, saat ini kasus Covid-19 terus mengalami lonjakan. “Bahkan, sekarang angka kejadian Covid-19 juga naik. Kabarnya, kasus yang aktif juga naik sampai 40% setelah libur kemarin. Jadi, protokol kesehatan ini PR besar bagi kita semua,” kata Daeng.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Daeng mengatakan pemerintah perlu meninjau kembali protokol kesehatan. “Pemerintah mungkin meninjau kembali protokol kesehatan yang sekarang dilakukan. Mungkin bukan hanya 3M, kalau hanya 3M dari segi ilmu kesehatan masyarakat, teori yang kuno saja seperti teori Bloom, kesehatan masyarakat, itu mestinya mengubah perilaku,” katanya.

“Jadi 3M saja tidak cukup, tapi lebih ke arah merubah perilaku karena hanya memakai masker, kemudian mencuci tangan dalam arti menjaga kebersihan, yang ketiga itu menjaga jarak atau menjaga kerumunan. Jadi dari aspek perilaku,” imbuhnya.

Baca Juga:  Kemenkes Ungkap Ada Daerah dengan Tingkat Keterisian RS Covid-19 Lebih dari 80%

Sebenarnya, kata Daeng, menurut teori-teori kesehatan masyarakat agar terhindar dari sebuah penyakit itu yang diubah atau yang dimodifikasi bukan hanya perilaku. “Minimal ada tiga hal yang sangat penting diperhatikan. Pertama merubah perilaku, yang kedua menjaga memodifikasi genetik atau kondisi konstitusi tubuh. Kalau bahasa gampangnya daya tahan tubuh sebenarnya,” katanya.

“Jadi mungkin perlu ditambah 1M lagi, yakni untuk mengkondisikan daya tahan tubuh. Itu yang mungkin belum didorong dalam program secara nasional dalam protokol kesehatan,” pungkasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini