KLHK Sebut Banjir Kalsel Karena Curah Hujan yang Tinggi

Giri Hartomo, Okezone · Rabu 20 Januari 2021 05:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 20 337 2347394 klhk-sebut-banjir-kalsel-karena-curah-hujan-yang-tinggi-br2XLlx05s.jpeg Banjir rendam wilayah Kalimantan Selatan. (Foto : BNPB)

JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel) disebabkan curah hujan yang begitu tinggi. Apalagi intensitas hujan yang tinggi ini tidak hanya terjadi satu hari saja.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK Karliansyah mengatakan, curah hujan pada periode 9 hingga 13 Januari 2021 mencapai 461 milimeter (mm). Sedangkan pada periode Januari 2020, curah hujan pada daerah tersebut hanya 394 mm saja.

"Penyebab banjir secara umum sekali lagi ini terjadi di alur DAS (Daerah Aliran Sungai) Barito khusus Wilayah Kalsel akibat dari cuaca ekstrem," ujarnya dalam acara Webinar Informasi Banjir Kalimantan Selatan, Selasa (19/1/2021).

Menurut Karliansyah, jika melihat data tersebut artinya ada peningkatan curah hujan hingga 9 kali lipat dari waktu normal. Curah hujan yang tinggi ini juga membuat volume air yang masuk ke sungai juga begitu besar.

"Artinya 8-9 kali dari curah hujan yang normal dengan demikian volume air yang masuk ke sungai itu juga itu luar biasa," ucapnya.

Baca Juga : Tinjau Lokasi Banjir Kalsel di Tengah Guyuran Hujan, Jokowi Sampaikan Duka Cita pada Korban

Karliansyah menjelaskan dengan curah hujan yang tinggi ada sekitar 2,08 miliar meter kubik air yang masuk ke sungai. Sementara itu, kapasitas tampung dari DAS Barito hanya 238 juta meter kubik saja.

"Jadi dari perhitungan itu ada sekitar 2,08 miliar meter kubik yang masuk dibandingkan kondisi normal itu hanya 238 juta meter kubik," ucapnya

Volume air yang cukup besar ini juga tidak diimbangi oleh sistem drainase yang baik. Hal ini dikarenakan daerah banjir tersebut berada di titik pertemuan anak sungai yang cekung sehingga dan kelokan serta fisiografisnya berupa tekuk lereng sehingga terjadi akumulasi air dengan volume besar.

"Kemudian lokasi banjir itu umumnya berada di daerah yang datar. Dan bermuara di laut. Sehingga merupakan akumulasi air dengan tingkat drainase yang rendah," jelasnya.

Baca Juga : Setelah Dikunjungi Presiden Jokowi, Penyebab Banjir Kalimantan Selatan Diperdebatkan Warganet

Selain itu lanjut Karliansyah, ada perbedaan yang sangat besar antara tinggi bagian hulu dengan hilir. Sehingga suplai air dari hulu dengan energi dan volume besar menyebabkan waktu konsentrasinya cepat.

"Di samping itu kami mencatat ada perbedaan yang sangat besar antara tinggi bagian hulu dengan hilir. Sehingga pasokan air dari hulu dengan energi dan volume yang besar tadi waktu konsentrasinya cepat jadilah genangan air banjir," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini