Tragis! Pasien Covid-19 Meninggal di Taksi Online Usai Ditolak Rumah Sakit

Binti Mufarida, Sindonews · Senin 18 Januari 2021 15:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 18 337 2346470 tragis-pasien-covid-19-meninggal-di-taksi-online-usai-ditolak-rumah-sakit-D3cQ5xdJqr.jpg foto: Okezone

JAKARTA – Seorang pasien positif Covid-19 asal Depok, Jawa Barat meninggal dunia di dalam taksi online setelah ditolak 10 rumah sakit rujukan Covid-19. LaporCovid-19 dan Center for Indonesia's Strategi Development Initiatives (CISDI) menyebut, peristiwa itu terjadi pada 3 Januari 2021 lalu.

(Baca juga: Abu Bakar Ba'asyir Batasi Terima Tamu dan Menolak Diwawancarai)

“Salah seorang keluarga pasien di Depok melaporkan, pada 3 Januari 2021, anggota keluarganya meninggal di taksi daring setelah ditolak di 10 rumah sakit rujukan Covid-19,” dari rilis yang dikutip MNC Portal Indonesia, Senin (18/1/2021).

Selain itu, dalam waktu singkat sejak akhir Desember 2020 hingga awal Januari 2021, LaporCovid19 mendapatkan total 23 laporan kasus pasien yang ditolak rumah sakit karena penuh, pasien yang meninggal di perjalanan, serta meninggal di rumah karena ditolak rumah sakit.

(Baca juga: Penumpang Keluhkan Penumpukan di KRL Bogor-Jakarta, PPKM Tak Berjalan?)

Laporan penolakan pasien itu, kebanyakan datang dari wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Relawan Tim BantuWargaLaporCovid19, dr.Tri Maharani mengatakan bahwa situasi layanan kesehatan sudah genting. “Tanda-tanda kolaps layanan kesehatan sebenarnya sudah terindikasi sejak bulan September 2020, yang kemudian mereda pada periode pemberlakuan PSBB di Jakarta.”

“Menjelang pertengahan November 2020, saat pelaksanaan pilkada serentak dan libur Nataru, memperburuk ketidakmampuan RS menampung pasien,” katanya Tri.

Selain itu, LaporCovid19 menemukan bahwa sistem rujuk antar fasilitas kesehatan tidak berjalan dengan baik, sistem informasi kapasitas Rumah Sakit tidak berfungsi. Banyak warga yang memerlukan penanganan kedaruratan kesehatan akibat terinfeksi Covid-19 tidak mengetahui harus ke mana.

Kondisi ini, lanjut Tri diperparah dengan permasalahan sistem kesehatan yang belum kunjung diatasi, di antaranya keterbatasan kapasitas tempat tidur, minimnya perlindungan tenaga kesehatan dan tidak tersedianya sistem informasi kesehatan yang diperbarui secara real-time.

Jika tidak segera diatasi, menurut Tri akan semakin banyak warga yang meninggal hanya karena otoritas abai dalam memberikan hak atas layanan dan perawatan kesehatan.

“Di sisi lain, pekerjaan rumah Menteri Kesehatan untuk memberikan perlindungan kepada tenaga kesehatan belum kunjung terlihat nyata. Hingga saat ini setidaknya 620 tenaga kesehatan meninggal akibat terpapar Covid-19,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini