BMKG Bantah Keluarkan Imbauan Warga untuk Eksodus Tinggalkan Mamuju

Tim Okezone, Okezone · Senin 18 Januari 2021 08:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 18 337 2346155 -NkuKAbqyJH.jpg Foto: Antara.

JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan tidak pernah menginstruksikan warga untuk meninggalkan Mamuju pascagempa bumi M 6,2 yang mengguncang wilayah tersebut pada Jumat (15/1/2021).

"BMKG hanya mengeluarkan imbauan terkait arahan evakuasi untuk menyelamatkan diri, bukan eksodus meninggalkan Mamuju," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Jakarta, Minggu (17/1/2021).

BACA JUGA: BMKG: Gempa di Majene dan Mamuju Kurang Lazim dan Aneh

Imbauan tersebut disampaikan saat rakor Gempa Mamuju-Majene pada Sabtu (16/1/2021) malam. Imbauan itu sekaligus membantah teks percakapan WhatsApp yang beredar, yang berisi informasi seolah BMKG menginstruksikan meninggalkan Mamuju sesegera mungkin.

"Informasi ini tidak benar dan dapat dikategorikan sebagai berita bohong (hoaks)," tegas Dwikorita.

Namun ia mengingatkan bahwa gempa susulan masih dapat terjadi seperti lazimnya pasca terjadinya gempa kuat, untuk itu masyarakat diminta mewaspadai kemungkinan gempa susulan dengan kekuatan yang signifikan.

Hasil monitoring BMKG terhadap aktivitas gempa di Majene dan Mamuju sejak tanggal 14 - 17 Januari 2021 tercatat sebanyak 37 kali gempa.

Masyarakat yang tempat tinggalnya sudah rusak atau rusak sebagian, diimbau untuk tidak menempati lagi karena jika terjadi gempa susulan signifikan dapat mengalami kerusakan yang lebih berat bahkan dapat roboh.

BACA JUGA: Kisah Suster Mia Meninggal saat Selamatkan Bayi Terjebak Reruntuhan Gempa Mamuju

Selain itu, warga yang tinggal di pesisir pantai juga diimbau untuk segera melakukan evakuasi mandiri menjauhi pantai jika terjadi gempa kuat di pantai, mengingat pesisir Majene pernah terjadi tsunami pada 1969.

"Segera melakukan evakuasi mandiri dengan cara menjauh dari pantai, dengan cara menjadikan gempa kuat yang dirasakan di pantai sebagai peringatan dini tsunami. Hal ini akan efektif menyelamatkan masyarakat pesisir jika sumber gempa kuat yang terjadi berada dekat pantai, karena waktu emas penyelamatan tsunami sangat singkat," tambahnya.

Masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan atau yang melewati jalan di tepi tebing curam juta diimbau untuk waspada karena gempa susulan signifikan dapat memicu terjadinya longsoran (landslide) dan runtuhan batu (rock fall).

Kondisi tersebut juga sangat berisiko terlebih lagi saat ini musim hujan yang dapat memudahkan terjadinya proses longsoran karena kondisi tanah lereng perbukitan basah dan labil setelah diguncang dua kali gempa kuat.

Masyarakat diminta untuk tidak percaya dengan berita bohong (hoaks), tetapi terus memantau dan mengikuti informasi resmi yang bersumber dari lembaga resmi seperti BMKG dan arahan dari BNBP/BPBD.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini