Pernah Terinfeksi Covid-19 Tak Perlu Divaksin, Begini Penjelasannya

Kuntadi, Koran SI · Jum'at 15 Januari 2021 21:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 15 337 2345272 pernah-terinfeksi-covid-19-tak-perlu-divaksin-begini-penjelasannya-NBp5mrIKpc.jpg Ilustrasi (Dok. okezone)

YOGYAKARTA – Pasien yang pernah terinfeksi Covid-19 tidak perlu mendapatkan vaksin Covid-19. Logikanya, pasien yang sembuh akan memiliki antibodi untuk melawan virus ini.

“Pasien yang sudah terinfeksi Covid-19 dan sembuh tidak perlu divaksin karena telah mendapat antibodi,” kata Ahli Imunologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Deshinta Putri Mulya dalam talkshow seputar Vaksin Covid-19 yang dilaksanakan RSA UGM secara daring, Jumat (15/1/2021).

Deshinta mengatakan, sistem kekebalan tubuh atau antibodi akan muncul dengan sendiri bagi pasien tang sembuh. Hal inilah menjadikan alasan, mereka yang pernah terinfeksi tidak menjadi prioritas dari sasaran vaksinasi Covid-19.

Vaksinasi Covid-19 hanya bisa diberikan kepada orang sehat yang masuk dalam prioritas penerima vaksin. Setiap penerima vaksin akan dilakukan screening kondisi tubuhnya, seperti suhu tubuh, tekanan darah, serta riwayat penyakit.

“Penerima vaksin harus benar-benar dalam kondisi sehat dan tidak demam. Kalau ad ayang suhunya 37,5 derajat celcius harus ditunda,” kata Kepala Divisi Imunologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM ini.

Sementara pada orang-orang dengam penyakit tertentu seperti TBC, hipertensi, diabetes, HIV dan lainnya dapat diberikan vaksin namun harus dalam kondisi terkontrol. Misalnya, pada pasien TBC dalam pengobatan bisa diberikan vaksin minimal 2 minggu setelah mendapat obat anti tuberkolosis.

Sedangkan bagi pasien DM tipe 2 terkontrol dan HbA1C dibawah 58 mmol/mol atau 7,5% dapat diberikan vaksin. Berikutnya, untuk pasien dengan HIV jika angka CD4 < 200 atau tidak diketahui maka vaksinasi tidak diberikan.

"Vaksin Covid-19 tidak bisa diberikan untuk pasien autoimun, gagal ginjal, serta wanita hamil," katanya.

Lebih lanjut Deshinta memaparkan pemberian vaksin akan menimbulkan efek samping, tetapi tidak berat. Reaksi yang muncul biasanya bersifat lokal ataupun sistemik seperti munculnya kemerahan, bengkak, nyeri pada area suntikan, dan selulitis. Sedangkan teaksi sistemik berupa demam, nyeri otot seluruh tubuh, nyeri sendi, badan lemah, serta sakit kepala.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini