Sidang Dakwaan Penyuap Nurhadi Ditunda Gegara Belum Ada Penasihat Hukum

Arie Dwi Satrio, Okezone · Jum'at 15 Januari 2021 14:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 15 337 2344977 sidang-dakwaan-penyuap-nurhadi-ditunda-gegara-belum-ada-penasihat-hukum-oezyHLQcLQ.jpg Ruang sidang penyuap Nurhadi (foto : Okezone.com/Arie DS)

JAKARTA - Sidang pembacaan surat dakwaan untuk terdakwa Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT) Hiendra Soenjoto terpaksa harus ditunda oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sebab, Hiendra belum menunjuk penasehat hukum yang akan mendampinginya selama proses persidangan.

Sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada hari ini, sempat dibuka oleh Ketua Majelis Hakim Saefudin Zuhri. Sidang dihadiri oleh para majelis hakim dan pihak Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun, kursi yang seharusnya diisi oleh penasehat hukum dari Hiendra Soenjoto, kosong.

Hakim Saefudin Zuhri lantas mengonfirmasi kepada terdakwa Hiendra yang dihadirkan secara virtual dari Gedung KPK, terkait keberadaan penasihat hukumnya.

"Apakah saudara sudah menunjuk penasihat hukum?" tanya Hakim Saefudin Zuhri di ruang sidang Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Jumat (15/1/2021).

"Belum Yang Mulia," jawab Hiendra.

Selama proses penyidikan di KPK, orang yang diduga sebagai penyuap mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi Abdurrachman itu sebenarnya sudah didampingi kuasa hukum. Namun, Hiendra tidak menjelaskan secara rinci mengapa kuasa hukumnya tersebut tidak melanjutkan mendampingi di proses persidangan.

"Saya baru dapat informasi kemarin kalau hari ini sidang. Dan kuasa hukum yang lama sepertinya ada kesibukan yang lain dan belum memberikan kuasa kepada saya Yang Mulia," beber Hiendra.

Hiendra pun meminta majelis hakim memberikan kelonggaran waktu untuk menunjuk penasehat hukum uang baru. Dia beralasan memiliki kesulitan komunikasi dengan keluarganya, karena selama proses penahanan hanya diberikan kesempatan dua hari saja, yakni Senin dan Kamis.

"Jadi mungkin hari Senin depan saya baru berbicara dengan istri, karena yang bisa berkomunikasi dengan saya hanya istri saya Yang Mulia. Saya mohon waktu Yang Mulia karena ada beberapa yang ingin saya komunikasikan terlebih dahulu Yang Mulia," kata Hiendra.

Baca Juga : Operasi Evakuasi Sriwijaya Air SJ-182 Diperpanjang 3 Hari

Sementara itu, Jaksa KPK Wawan Yunarwanto menyebut bahwa pihaknya telah menginformasikan agenda sidang sejak Senin, 11 Januari 2021, lalu, kepada Hiendra. Wawan juga mengatakan bahwa berkas perkara maupun surat dakwaan Hiendra telah diserahkan kepada kuasa hukumnya yang lama.

"Kemarin kan setelah pelimpahan, kami masih berkomunikasi dengan pengacara yang lama, dan berkas serta dakwaan kita serahkan pada terdakwa melalui pengacara yang lama," kata Wawan.

Wawan kemudian meminta kepada hakim agar sidang pembacaan dakwaan Hiendra ditunda hingga Rabu, 20 Januari 2021. Sebab, sidang perkara dengan terdakwa Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono, yang seharusnya dilaksanakan pada hari itu ditunda setelah Rezky terkonfirmasi covid-19.

Namun, Hiendra tetap meminta hakim agar penundaan dilakukan sampai Jumat pekan depan. Hakim Saefudin Zuhri mengamini permintaan Hiendra dan mengultimatumnya untuk memenuhi janji agar sudah menunjuk penasihat hukum.

"Saudara berjanji satu minggu untuk menunjuk (penasihat hukum). Kalau janjinya tidak ditepati, tidak menunjuk, akan kita tunjuk yang dari kami, yang dari majelis hakim. Dan kita lanjutkan sidangnya," ujar Saefudin Zuhri.

"Nanti kita buka kembali sidangnya hari Jumat tanggal 22 Januari 2021. Begitu ya? Sidang selesai dan ditutup," tandasnya.

Sekadar informasi, Hiendra Soenjoto diduga menyuap Nurhadi melalui Rezky untuk mengurus penanganan perkara perdata antara PT MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN). Masalah antara kedua perusahaan itu terkait gugatan perjanjian sewa menyewa depo container milik PT KBN di wilayah KBN Marunda, Jakarta Utara.

Selain itu, suap lainnya dari Hiendra dilakukan untuk memenangkan gugatan yang diajukan Azhar Umar di PN Jakarta Pusat terkait akta nomor 116 tertanggal 25 Juni 2014 tentang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT MIT. Adapun, total suap yang diberikan oleh Hiendra kepada Nurhadi dan Rezky mencapai Rp45.726.955.000.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini