Ungkap Jatuhnya Sriwijaya Air, KNKT: Kita Gunakan Segala Macam Cara

Giri Hartomo, Okezone · Kamis 14 Januari 2021 03:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 14 337 2344060 tanpa-cvr-begini-cara-knkt-investigasi-penyebab-jatuhnya-sriwijaya-air-u9lN5Cqhf1.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Pasukan TNI Angkatan Laut telah menemukan black box atau kotak hitam pesawat Sriwijaya Air SJ-182. Black box yang ditemukan berupa Flight Data Recorder (FDR).

Tim SAR Gabungan pun masih terus melakukan pencarian kotak hitam berisi cockpit voice recorder (CVR) pesawat Sriwijaya Air

(Baca juga: Mayor Iwan, Pasukan Khusus Penemu Black Box Sriwijaya Air Mampu Menyelam di Kedalaman Ekstrim)

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Kementerian Perhubungan Soerjanto Tjahjono mengatakan, pihaknya akan menempuh berbagai macam cara untuk bisa menginvestigasi penyebab terjatuhnya pesawat. Meskipun jika nantinya CVR tidak berhasil ditemukan.

“Kita akan gunakan segala macam cara (untuk investigasi) jika CVR tak ditemukan,” ujarnya saat ditemui di Dermaga JICT Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (13/1/2021) malam.

Salah satu caranya adalah dengan melakukan analisis dari data temuan yang terekam dalam flight data recorder atau FDR melalui noise atau suara di balik percakapan yang tertangkap dalam alat tersebut. Meskipun nantinya harus mendengarkan percakapan tersebut dengan sangat teliti dan detil hingga berulang kali.

(Baca juga: Tim SAR Kumpulkan 141 Kantong Jenazah dan 28 Potongan Besar Sriwijaya Air)

“Ketika Pilot jawab ke AirNav, kami dengarkan berulang kali bahkan sampai seribu kali,” ucapnya.

Soerjanto menambahkan, pihaknya akan menganalisis bunyi-bunyi khusus yang mengindikasikan terjadinya keadaan tertentu lewat suara yang tekirim ke tower AirNav. Nantinya, bunyi-bunyi tersebut akan dicocokan dengan data yang didapatkan dari pabrikan pesawat.

“Kalau di belakang ada bunyi tit tot tetet kami punya contoh suara, bunyi tetet (misalnya) mesin mau mati, pilotnya mau lepas kita dapat dari pabrik 85 macam,” jelasnya.

Meski demikian, data yang diperoleh investigator dari saluran tunggal yakni FDR, sangat terbatas untuk menarik kesimpulan. Oleh karena itu, penemuan CVR sama pentingnya dengan penemuan black box FDR.

“Kalau enggak ada CVR, kita coba ketika dia jawab ke tower kita dengerin ada background noise atau enggak tapi ya sangat terbatas,” tandasnya.

Sebelumnya, pesawat Sriwijaya Air nomor register PK-CLC SJ 182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada hari Sabtu (9/1) pukul 14.40 WIB dan jatuh di perairan Kepulauan Seribu di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak di posisi 11 nautical mile di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat take off dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 14.36 WIB. Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya 13.35 WIB. Penundaan keberangkatan karena faktor cuaca.

Berdasarkan data manifest, pesawat yang diproduksi pada tahun 1994 itu membawa 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, dan tiga bayi. Sementara itu, 12 kru terdiri atas enam kru aktif dan enam kru ekstra.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini