KPK Panggil Dirjen Linjamsos Kemensos dan 2 Direktur Terkait Suap Bansos Covid-19

Raka Dwi Novianto, Sindonews · Rabu 13 Januari 2021 11:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 13 337 2343594 kpk-panggil-dirjen-linjamsos-kemensos-dan-2-direktur-terkait-suap-bansos-covid-19-Wx3lukDzDQ.jpg Ilustrasi (Dok. okezone)

JAKARTA - Tim Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Dirjen LinjamSos Kemensos RI, Pepen Nazarudin terkait kasus dugaan suap pengadaan bantuan sosial (bansos) Covid-19 untuk wilayah Jabodetabek yang menjerat mantan Menteri Sosial (Mensos) Juliari P. Batubara dan empat tersangka lainnya.

Pepen akan diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka Ardian Iskandar Maddanatja alias Ardian Maddanatja (AIM) yang merupakan Presiden Direktur PT Tiga Pilar Agro Utama atau PT Tigapilar Agro Utama (TPAU/TAU).

"Yang berada akan diperiksa menjadi saksi untuk tersangka AIM," ujar Plt Juru bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Rabu (13/1/2021).

Selain memanggil Pepen, tim penyidik juga memanggil saksi lainnya yakni Direktur PT Mandala Hamonangan Sude, Rajif Bachtiar Amin ;Direktur Utama PT Famindo Meta Komunika, Ubayt Kurniawan dan seorang pihak swasta, Agustri Yogasmara. Rajif akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka mantan Mensos Juliari P. Baru Bara, sedangkan sisanya diperiksa untuk Ardian.

Diketahui, KPK telah menetapkan mantan Menteri Sosial (Mensos), Juliari P Batubara (JPB) sebagai tersangka penerima suap. Juliari Batubara diduga menerima suap terkait pengadaan barang dan jasa berupa bantuan sosial (bansos) dalam penanganan pandemi Covid-19.

Selain Juliari Batubara, KPK juga menetapkan empat tersangka lainnya. Empat tersangka itu yakni Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Kementerian Sosial (Kemensos), Matheus Joko Santoso (MJS) dan Adi Wahyono (AW) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam pelaksanaan proyek bantuan sosial (Bansos) COVID-19 di Kemensos .

Kemudian, dua tersangka pemberi suap yakni, Ardian Iskandar Maddanatja alias Ardian Maddanatja yang merupakan Presiden Direktur PT Tiga Pilar Agro Utama atau PT Tigapilar Agro Utama (TPAU/TAU) dengan akronim TIGRA. Kedua, Sekretaris Umum Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jakarta Pusat periode 2017-2020 sekaligus advokat, Harry Van Sidabukke.

Diduga dalam kasus ini pelaksanaan proyek tersebut dilakukan dengan cara penunjukan langsung para rekanan dan diduga disepakati ditetapkan adanya fee dari tiap-tiap paket pekerjaan yang harus disetorkan para rekanan kepada Kemensos melalui Matheus.

Untuk fee tiap paket bansos disepakati oleh Matheus dan Adi sebesar Rp10 ribu per paket sembako dari nilai Rp300 ribu perpaket bansos. Pada pelaksanaan paket Bansos sembako periode pertama diduga diterima fee Rp12 miliar, yang pembagiannya diberikan secara tunai oleh Matheus kepada Juliari Peter Batubara melalui Adi dengan nilai sekitar Rp8,2 miliar.

Untuk periode kedua pelaksanaan paket bansos sembako, terkumpul uang fee dari bulan Oktober sampai dengan Desember 2020 sejumlah sekitar Rp8,8 miliar yang juga diduga akan dipergunakan untuk keperluan Juliari. Kalau Rp8,8 miliar dijumlahkan dengan Rp8,2 miliar, maka jatah dugaan suap untuk Juliari sebesar Rp17 miliar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini