Investigasi Sementara KNKT: Sriwijaya Air SJ-182 Tak Meledak Sebelum Membentur Air

Yohannes Tobing, Sindonews · Selasa 12 Januari 2021 16:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 12 337 2343224 investigasi-sementara-knkt-sriwijaya-air-sj-182-tak-meledak-sebelum-membentur-air-Ey5UDh8xLt.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Dalam kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah melakukan investigasi sementara pesawat jenis Boeing 737-500 registrasi PK-CLC, rute Bandar Udara Soekarno-Hatta menuju Bandar Udara Soepadio, Pontianak.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan, pihaknya telah mengumpulkan data radar (ADS-B) dari Perum LPPNPI (Airnav Indonesia). Dari data tersebut, tercatat bahwa pesawat mengudara pada pukul 14.36 WIB, terbang menuju arah barat laut dan pada pukul 14.40 WIB pesawat mencapai ketinggian 10.900 kaki. 

"Tercatat pesawat mulai turun dan rekaman terakhir pesawat pada ketinggian 250 kaki. Ada indikasi bahwa sistem pesawat masih berfungsi dan mampu mengirim data. Dari data ini kami menduga bahwa mesin dalam kondisi hidup sebelum pesawat membentur air," Ucap Soerjanto melalui keterangan tertulis.

Sementara itu berdasarkan data lapangan lain yang didapat KNKT dan KRI Rigel adalah sebaran wreckage memiliki besaran dengan lebar 100 meter dan panjang 300 - 400 meter. "Luas sebaran ini konsisten dengan dugaan bahwa pesawat tidak mengalami ledakan sebelum membentur air," tuturnya.

Baca juga: KRI Tenggiri Bawa 6 Kantong Berisi Bagian Tubuh dan Serpihan Pesawat Sriwijaya Air

Sampai saat ini temuan bagian pesawat yang telah dikumpulkan oleh Basarnas adalah bagian mesin. Seperti turbine disc dengan fan blade yang mengalami kerusakan. Kerusakan pada fan blade menunjukan bahwa kondisi mesin masih bekerja saat mengalami benturan.

Hal ini sejalan dengan dugaan sistem pesawat masih berfungsi sampai dengan pesawat pada ketinggian 250 kaki," jelas Soerjanto.

Adapun upaya pencarian black box berupa flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (cvr) telah menangkap sinyal dari locator beacon.

"Dari sinyal yang diperoleh sudah dilakukan pengukuran dengan triangulasi dan telah dilakukan perkiraan lokasi seluas 90 meter persegi. Sejak pagi hari tanggal 11 januari 2021, tim penyelam sudah mencari di lokasi yang sudah diperkirakan. Sampai dengan sore hari, black box belum ditemukan dan pencarian masih dilakukan," tegas soerjanto. 

Hingga hari ini proses investigasi masih berlangsung dan akan melakukan beberapa kegiatan antara lain, melanjutkan oencarian balck box, pengumpulan data pesawat, dan awak pesawat, melakukan beberapa interview dengan pihak terkait dan kegiatan lainnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini