Cerita Relawan di Balik Evakuasi Sriwijaya SJ-182, Ini Ketiga Kalinya

Suparjo Ramalan, iNews · Selasa 12 Januari 2021 00:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 11 337 2342783 cerita-relawan-di-balik-evakuasi-sriwijaya-sj-182-ini-ketiga-kalinya-Qw0ramHD4J.jpeg Ilustrasi (Dok. Antara)

JAKARTA - Sejumlah relawan turut membantu dalam proses evakuasi Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di Kepulauan Seribu, jakarta. Salah sataunya Bayu Wardoyo bersama sejumlah rekannya yang tergabung dalam Indonesia Divers Rescue Team (IDRT).

Bayu pun menceritakan suka duka selama tiga hari menjadi relawan. Dan peristiwa kali ini, adalah ketiga kalinya ia terlibat dalam evakuasi jatuhnya pesawat.

Dia bersama 10 rekannya bergabung di posko SAR terpadu di Jakarta International Container Terminal (JICT) 2 Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di JICT 2, para penyelam profesional ini langsung bergabung bersama para relawan dan komponen lain di bawah koordinasi Basarnas dalam operasi pencarian penumpang dan pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

Bayu sebagai koordinator dan sepuluh temannya sebelumnya sudah dua kali terlibat dalam SAR pesawat jatuh yakni pesawat Air Asia QZ 8501 yang jatuh di Laut Jawa pada 28 Desember 2014 dan pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di Laut Jawa pada 29 Oktober 2018.

"Kami ya benar-benar swadaya. Namanya relawan masa berharap support dari pihak lain. Justru keberadaan kita mendukung kelancaran operasi pencarian ini dengan keahlian yang kita punya," tuturnya saat ditemui MNC Portal Indonesia di atas KN SAR Basudewa, Senin (11/1/2021) di perairan Kepulauan Seribu.

Menurut Bayu, IDRT sebenarnya sudah 15 tahun terlibat aktif membantu Basarnas dalam proses evakuasi penyelaman. Dia mengungkapkan, risiko terberat melakukan penyelaman adalah kematian.

Baca Juga : Black Box Sriwijaya Air Dikabarkan Ditemukan, Basarnas Fokus Pencarian Korban

Karena itu, selain pengalaman dan keahlian, potensi risiko tadi diminimalisasi dengan menjaga kondisi fisik agar tetap fit. "Alat selam kalau sudah dirakit beratnya 15 kilogram. Rata-rata penyelaman 45 menit, risiko kematian paling tinggi," kata Bayu.

Dia membagi tim dari IDRT dalam lima kelompok terpisah pada operasi pencarian penumpang dua hari terakhir. Di saat malam tiba, ketika operasi pencarian dihentikan sementara, para penyelam bersama para relawan lain menghabiskan waktu dengan bercengkrama di atas geladak dan menyiapkan peralatan untuk esok harinya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini