Kasus Covid-19 Melonjak, Menkes Imbau RS Konversikan Tempat Tidur

Fahreza Rizky, Okezone · Senin 11 Januari 2021 16:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 11 337 2342587 kasus-covid-19-melonjak-menkes-imbau-rs-konversikan-tempat-tidur-jmkZIVa9q1.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kasus positif corona melonjak pasca libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Oleh sebab itu, dibutuhkan tambahan tempat tidur di rumah sakit untuk merawat pasien.

Budi menerangkan, pemerintah harus memastikan 30% ketersediaan tempat tidur di rumah sakit dari total kasus aktif virus corona yang ada. Menurutnya itu adalah rumusan sederhana untuk menghitung kebutuhan tempat tidur.

"Jumlah tempat tidur yang dibutuhkan untuk merawat di rumah sakit hitung-hitungannya sederhana adalah 30 persen dari kasus aktif. 30 persen dari kasus aktif membutuhkan perawatan di rumah sakit," ucapnya saat jumpa pers secara virtual dari Kantor Presiden, Jakarta, Senin (11/1/2021).

Baca juga:  Update Corona 11 Januari 2021: Positif 836.718 Orang, 688.739 Sembuh dan 24.343 Meninggal

Budi menjelaskan, jumlah kasus aktif virus corona di November 2020 sekitar 50.000. Lalu di awal Januari ini jumlah kasus aktif virus corona melonjak jadi sekitar 120.000. Dengan skema 30 persen per jumlah kasus aktif, artinya pemerintah membutuhkan 36.000 tempat tidur di rumah sakit.

"Sebagai informasi di bulan November kasus aktifnya sekitar 50.000-an. Sekarang kasus aktifnya 120.000-an. Jadi dengan hitung-hitungan mudah tadi di bulan November kita hanya butuh 15.000 atau 30 persen dari 50.000 tempat tidur. Sekarang butuhnya 36.000, 30 persen dari 120.000," ungkap Budi.

Baca juga:  Sultan HB X Tak Masuk Penerima Vaksin Sinovac karena Faktor Usia 

"Jadi dalam satu bulan kita harus menambah jumlah tempat tidur untuk pasien Covid dari 15.000 ke 36.000. Ini masalah yang akan kita hadapi minggu ini, minggu depan sampai dengan akhir Januari atau awal Februari," tambahnya.

Untuk mengantisipasi lonjakan kasus ini, pemerintah sudah mengimbau petinggi atau pemilik rumah sakit untuk mengonversikan tempat tidur yang dimilikinya untuk merawat pasien Covid-19. Konversi ini sifatnya temporer atau sementara, karena ada lonjakan kasus.

"Apa yang sudah kami lakukan? Kami sudah menghimbau kepada seluruh rumah sakit, baik dirutnya maupun pemiliknya. Kenapa? karena banyak rumah sakit yang kami lihat BOR (bed occupancy ratio)-nya masih rendah, tapi sudah penuh dan pasien Covid tidak masuk. Kenapa? Karena contohnya rumah sakit punya 100 kamar, 100 tempat tidur yang dialokasikan buat pasien Covid hanya 10. Jadi otomatis dia masih kosong BOR-nya tetapi kalau Covid masuk tidak bisa karena tempatnya cuma 10," paparnya.

Dengan mekanisme konversi bed sementara ini, Budi berharap cara tersebut paling tepat untuk menghadapi lonjakan kasus yang diakibatkan oleh masa libur panjang Nataru.

"Saya minta ini cara yang paling cepat untuk menambah jumlah kamar, mengantisipasi puluhan ribu pasien baru yang akan masuk, saya minta tolong. Semua dirut rumah sakit, semua pemilik rumah Sakit tolong konversikan bed-nya yang tadinya bukan untuk Covid menjadi Covid, yang tadinya cuma 10 persen jadi 30 atau 40 persen secara temporer saja sambil kita bisa menghadapi lonjakan yang membutuhkan puluhan ribu bed baru," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini