Pencarian Udara Sriwijaya, Terlihat Air Laut Menghitam di Kepulauan Seribu

Riezky Maulana, iNews · Minggu 10 Januari 2021 12:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 10 337 2341988 pencarian-udara-sriwijaya-terlihat-air-laut-menghitam-di-kepulauan-seribu-MsPEns42TE.jpg Air Laut (Foto: Rizki Maulana/inews)

JAKARTA - TNI Angkatan Udara (AU) mengerahkan satu unit pesawat CN-295 untuk memantau dan mencari keberadaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang hilang kontak pada Sabtu (9/1/2021). Pencarian dilakukan di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu.

Pantauan MNC Media, Peswat CN-295 mulai meninggalkan Lanud Halim Perdanakesuma, Jakarta Timur pada pukul 09.30 WIB. Hanya butuh waktu 15 menit untuk bisa tiba di atas perairan Kepulauan Seribu.

 Baca juga: Polda Metro Buka Posko Pengaduan, Keluarga Korban Sriwijaya Air Diminta Bawa Dokumen Resmi

Dari pantauan udara, terlihat beberapa kapal milik stekholder terkait yang sedang melakukan pencarian sibuk menyusuri luasnya lautan. Kapal-kapal kecil dari para nelayan juga banyak terlihat membantu.

Di beberapa titik, warna daripada air laut jika dilihat agak sedikit menghitam akibat tumpahan bahan bakar minyak. Pesawat pun akhirnya tiba kembali ke landasan pacu Lanud Halim sekira pukul 11.45 WIB.

 Baca juga: Serpihan Pesawat Sriwijaya Air yang Diserahkan ke DVI Sebelumnya Viral di Medsos

Pilot Pesawat CN-295 Kapten Gilang S Pranajaya menuturkan, pihaknya menempuh waktu terbang selama kurang lebih 1,5 jam. Menurutnya, daya tahan pesawat sendiri bisa terbang hingga empat jam lamanya.

"Kami CN-295 melaksanakan patroli selama 1,5 jam di area yang sudah ditentukan itu. untuk endurance bisa empat jam tapi kami tadi melaksanakan 1,5 jam saja," ucapnya di lokasi, Minggu (10/1/2021).

Dia memaparkan, ketinggian dari terbangnya pesawat CN-295 bervariasi, yang dimulai dengan 500 feet. Dirinya selaku kapten pilot memutuskan untuk menurunkan ketinggian bilamana ditemukan hal yang sedikit mencolok.

"Ketinggiannya bervariasi ya mulai dari 500 feet di atas permukaan laut untuk semakin meningkatkan jarak pandang kita agak tinggi. Bila sudah ternyata ada sesuatu yang agak mencolok baru kita turun kembali untuk memperjelas penglihatan," tuturnya.

Dia memaparkan, polanyang digunakan saat proses oencarian tadi adalah square pattern. Square pattern, kata Gilang adalah proses dimana pesawat mengitari objek yang telah ditentukan.

"Saat menemukan dan sudah diberikan koordinat kita melakukan square pattern. Itu adalah melingkari target atau koordinat yang telah ditentukan, semakin meluas. Harapannya dapat ditemukan dan melihat objek yang berpotensi. Beputar 10-15 kali," ucapnya.

Adapun cuaca ketika proses pencarian kata Gilang berawan. Namun, saat berada di sekitar lokasi cuaca cerah dengan jarak pandang mencapai enam kilometer.

"Cuaca berawan, namun saat di area itu cerah dengan jarak pandang mencapai enam KM," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini