Share

Komnas HAM: Penembakan Tak Terjadi jika Laskar FPI 'Kabur' dan Tak Menunggu Polisi

Felldy Utama, iNews · Jum'at 08 Januari 2021 21:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 08 337 2341350 komnas-ham-penembakan-tak-terjadi-jika-laskar-fpi-kabur-dan-tak-menunggu-polisi-EznYCfh3aE.jpg Choirul Anam. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai, peristiwa penembakan 6 laskar Front Pembela Islam (FPI) bisa saja tidak terjadi, jika laskar pengawal Habib Rizieq (HRS) langsung pergi dan tidak menunggu petugas kepolisian yang sempat tidak bisa mengejar iring-iringan HRS. 

Komisioner Komnas HAM, Chairul Anam menyampaikan kronologi singkat atas hasil investigasi pihaknya. Dia membenarkan jika mobil rombongan Habib Rizieq dibuntuti sejak keluar gerbang komplek perumahan, masuk ke Gerbang Tol Sentul Utara 2, hingga Tol Cikampek dan keluar pintu Tol Karawang Timur. Dia memastikan, pergerakan iring-iringan mobil masih berjalan normal.

Selanjutnya, kata dia, rombongan HRS keluar di Pintu Tol Karawang Timur dan tetap diikuti oleh beberapa kendaraan

yang melakukan pembuntutan. Dalam kejadian ini, sebanyak 6 mobil rombongan HRS melaju lebih dulu, dan meninggalkan 2 mobil pengawal lainnya, yaitu mobil Den Madar (Avanza silver) dan Laskar Khusus (Chevrolet Spin) untuk tetap menjaga agar mobil yang membuntuti tidak bisa mendekati mobil HRS dan rombongan.

"Kedua mobil FPI tersebut berhasil membuat jarak dan memiliki kesempatan untuk kabur dan menjauh, namun mengambil tindakan untuk menunggu. Akhirnya, mereka bertemu kembali.

dengan mobil petugas K 9143 EL serta 2 mobil lainnya, yaitu B 1278 KJD dan B 1739PWQ," kata Anam menjelaskan dalam jumpa persnya, Jumat (8/1/2021).

Berkaca dari hal tersebut, Komnas HAM memandang bahwa kalau tidak ada peristiwa menunggu petugas kepolisian yang tertinggal iring-iringan HRS, maka peristiwa KM 50 ini tidak akan terjadi.

"Karena ditunggu, makanya peristiwa gesekan, macam-macam, tembak-menembak, sampai ke KM 50 sampai KM ke atas itu tidak akan terjadi kalau tidak ditunggu. Itu menurut kami satu standing yang juga penting," ujarnya. 

Anam menuturkan, dari keterangan yang didapatkan, dia membenarkan memang ada kegiatan pembuntutan yang dilakukan petugas kepolisian. Akan tetapi, dia tak menemukan adanya perintah menembak laskar FPI dalam kegiatan tersebut. 

"Bahwa ada pembuntutan, iya. Tapi pembuntutan itu sebenarnya bisa selesai kalau ya ditinggal saja. Namanya dibuntutin ya ditinggal saja. Tidak perlu ada semacam heroisme dan lain sebagainya. Kalau itu tidak ada ya tidak akan ada peristiwa KM 50, KM 51," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini