Kerusuhan Gedung Capitol Mirip Mei 1998 di Indonesia

Kiswondari, Sindonews · Jum'at 08 Januari 2021 08:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 08 337 2340904 kerusuhan-gedung-capitol-mirip-mei-1998-di-indonesia-09S6dPeCEl.jpg Keurushan di Gedung Capitol (Foto : Reuters)

JAKARTA - Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menyoroti tentang kerusuhan yang terjadi di gedung kongres Capitol Hill, Washington DC, Amerika Serikat (AS) pada Kamis 7 Januari kemarin, yang dilakukan oleh demonstran yang berasal dari pendukung Presiden AS Donald Trump.

Fahri menganggap, demonstrasi mahasiswa pada Mei 1998 di Indonesia, mirip dengan yang terjadi di Amerika. Di mana pendemo berhasil menduduki gedung DPR RI Senayan. Tapi, tantu ada perbedaan dari dua peristiwa tersebut.

"Situasi di AS yang acara visual itu terjadi persis sama dengan yang terjadi pada Mei 1998, sekitar 22 tahun lalu, di Indonesia ketika terjadinya pergantian pemerintahan," kata Fahri kepada wartawan di Jakarta, Jumat (8/1/2021).

"Memang kalau kita lihat bedanya, sama-sama pergantian pemerintahan, Donald enggan mengakui kekalahannya di Pilpres AS kemarin, kalai di Indonesia waktu itu juga rezim yang sudah berkuasa lama dan dianggap mahasiswa enggan mengundurkan diri," bebernya.

Menurut Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia itu, ada pelajaran penting yang bisa ditarik dari peristiwa ini, kedua peristiwa ini bisa dikatakan proses politik yang menciptakan radikalisasi di tingkat rakyat.

Baca Juga : Pemimpin Dunia Kutuk Kerusuhan Pendukung Trump di Gedung Capitol AS

Kalau pada 1998, radikalisasi terjadi oleh kuatnya pemerintahan dan berkurangnya kebebasan, sehingga rakyat yang dipimpin oleh kekuatan mahasiswa mengambil inisiatif untuk melakukan kontrol terhadap gedung parlemen.

Sementara yang terjadi di AS adalah ketidakpuasan pendukung Donald terhadap hasil pemilu, yg menyebabkan mereka menganggap bahwa kongres itu adalah penghambat bagi proses pemilu dan dianggap curang. "Kongres juga dianggap menjadi oposisi yang terlalu kuat terhadap presiden Donald Trump," imbuhnya.

Aktivis 98 ini melihat, peristwa Mei 1998 merupakan masa transisi dari otoritarianisme ke demokrasi, tetapi dalam pemilu AS, Donald Trump dianggap pemimpin otoriter sementara negaranya demokrasi.

"Karena itu, saya lebih menyoroti kejadian meradikalisasi rakyat. Ini pelajaran buat kita yang sama-sama berada dalam iklim demokrasi, bahwa provokasi terhadap rakyat dapat menciptakan radikalisasi, dan radikalisasi dapat menciptakan proses politik masif yang berakhir dengan dikuasainya gedung parlemen," kata mantan anggota Komisi III DPR ini.

Ilustrasi

Politikus asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini, terkait dengan radikalisasi ini Twitter kemudian menutup akun Donald Trump yang dipakai untuk memprovokasi massa. Jadi, ini adalah problem provokasi.

Untuk itu, Fahri mengingatkan agar elite jangan terjebak dalam hal yang dapat membelah rakyat.

"Pelajarannya adalah sebaiknya elit jangan terjebak meneruskan pembelahan pada masyarakat, yang dapat menyebabkan radikalisasi yang akan kian menguat. Sebaiknya pemimpin menciptakan suasana yang rekonsiliatif sehingga membuat masya mengambil jalan-jalan yang damai," pintanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini