IPB Berduka, Tiga Peneliti Terbaik Meninggal Salah Satunya Kena Covid-19

Putra Ramadhani Astyawan, Okezone · Rabu 06 Januari 2021 22:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 06 337 2340154 ipb-berduka-tiga-peneliti-terbaik-meninggal-salah-satunya-kena-covid-19-WIjZ2os43D.jpg ilustrasi: Okezone

BOGOR - Institut Pertanian Bogor (IPB) University berduka dengan meninggalnya tiga dosen dalam waktu berdekatan. Salah satu diantaranya meninggal dunia setelah sempat dirawat karena terpapar Covid-19.

Pertama adalah salah satu dosen dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Dr Kiagus Dahlan meninggal dunia pada 5 Januari 2021. Kemudian Dr Mukjizat Kawaroe dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) serta Prof Dr Kukuh Murtilaksono dari Fakultas Pertanian (Faperta).

(Baca juga: Pinangki : Anak Saya Masih 4 Tahun dan Bayi Tabung, Tolong Belas Kasihannya)

"Rasa duka sedalam-dalamnya kami sampaikan untuk keluarga almarhum dan almarhumah. Doa terbaik kami semoga amal ibadah beliau bertiga diterima di sisi Allah dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya," kata Kabiro Komunikasi IPB University Yatri Indah Kusumastuti, dalam siaran persnya, Rabu (6/1/2021).

Untuk informasi, Dr Kiagus Dahlan adalah sosok dosen dan peneliti yang aktif menghasilkan karya-karya penelitian. Salah satu hasil penelitiannya adalah berhasil mengembangkan biomaterial keramik kalsium fosfat berbahan dasar limbah cangkang telur untuk keperluan filler gigi, khususnya untuk penumbuhan tulang alveolar gigi, telah dikembangkan Tricalcium Phosphate (TCP) yang karakteristiknya sama dengan produk impor.

Dokter gigi di Indonesia jarang menggunakan TCP karena harganya sangat mahal. TCP dari cangkang telur ini merupakan sesuatu yang baru karena belum pernah dikembangkan sebelumnya.

Penelitian ini telah mengantarkannya menjadi salah satu innovator dalam 102 dan 106 Inovasi Indonesia versi Business Innovation Center (BIC)-Kementerian Riset, Teknologi dn Pendidikan Tinggi (Kemistekdikti) pada tahun 2010 dan 2014.

Hasil penelitiannya ini diharapkan dapat berguna di masyarakat untuk menggantikan produk impor dalam bedah tulang dan perawatan gigi yang harganya sangat mahal.

Alumnus doktor bidang biofisika di University of New South Wales, Australia ini juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Masyarakat Biomaterial Indonesia (MBI) dan Wakil Ketua Himpunan Fisikawan Medis dan Biofisikawan Indonesia (HFMBI).

Di IPB University, sejumlah jabatan pernah diamanahkan kepadanya antara lain Wakil Dekan FMIPA, Direktur Administrasi Pendidikan dan Penerimaan Mahasiswa Baru serta jabatan terakhir sebagai Kepala Unit Laboratorium Riset Unggulan.

Lalu, Dr Mukjizat Kawaroe adalah ahli Biologi Laut IPB University. Ragam penelitian dilakukannya terkait ekotipologi mangrove dan lamun, biologi reproduksi hewan laut, biodiversitas dan konservasi laut, rehabilitasi dan pengelolaan ekosistim mangrove dan lamun.

Sosok yang pernah menjabat sebagai Kepala Laboratorium Bioprospeksi Kelautan Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan FPIK IPB University ini punya tekad keras untuk mewujudkan biofeul dari mikroalgae. Ia lakukan penelitian dan ujicoba perbanyakan mikroalga dengan Racepond di Pelabuhan Ratu dan mendapatkan bahwa dari 80 ton kultur mirkoalga dari jenis Nannochloropsis sp dapat menghasilkan 22 kilogram bubuk mikroalga yang dapat diubah menjadi 2 liter biodiesel.

Ia dan tim telah memiliki 13 jenis mikroalga potensial untuk bioenergi. Jenis-jenis tersebut adalahTertraselmis suecica, Dunaiella sp, Chaetoceros sp, Chrollera vulgaris, Thalasiosia sp, Spirullina platensis, Nannocholoropsis sp, Navicula sp, Botrycoccus sp, Nitzchia sp, Skeletonema, Tertraselmis chuii. Dalam pelaksanaan penelitiannya, Doktor lulusan Ilmu Kelautan IPB ini bekerjasama dengan Riset Institute Science and Technology (RIST) Korea.

Terakhir, Prof Dr Kukuh Murtilaksono adalah pakar konservasi tanah dan air serta pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Alumnus doktor University of the Philippine at Los Banos ini banyak melakukan riset dengan melibatkan keilmuan fisika tanah, kimia fisik koloid tanah, sumberdaya fisik wilayah, kebijakan pengelolaan DAS, serta mitigasi bencana kerusakan lahan.

Pada tahun 2013, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar IPB University dengan judul orasi Penyelarasan Implementasi Pengelolaan DAS di Indonesia. Sejumlah jabatan pernah dipegangnya diantaranya Ketua Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan (ITSL) Faperta IPB University tahun 2005-2009, Ketua Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia, serta anggota Dewan Guru Besar (DGB) IPB University.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini